Megengan 5.0 Jadi Ciri Khas MAN 1 Kota Malang, Wajah Nyata Kurikulum Berbasis Cinta
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
20 - Feb - 2026, 06:53
JATIMTIMES – Megengan 5.0 bukan lagi sekadar tradisi tahunan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Malang. Kegiatan bertema Harmoni Tradisi dan Inovasi yang digelar belum lama ini, telah menjelma menjadi ciri khas madrasah, sekaligus wajah konkret implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam pembelajaran.
Di tengah banyaknya sekolah yang merayakan tradisi jelang Ramadan secara seremonial, MAN 1 Kota Malang menghadirkan megengan sebagai ruang belajar yang hidup. Tradisi masyarakat Jawa ini diolah menjadi bagian dari pembelajaran kokurikuler terintegrasi, yang tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga membangun kompetensi, karakter, dan kreativitas siswa.
Baca Juga : Daftar Juara Lomba Baca Berita Jatim Times 2026, Juri Puji Kualitas Peserta
Kepala MAN 1 Kota Malang, Dr. H. Sutirjo, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa Megengan 5.0 merupakan wujud rasa syukur sekaligus sarana penanaman nilai kebersamaan, kepedulian, dan kesiapan spiritual menyambut Ramadan. Ia menyebut, inilah bentuk nyata bagaimana Kurikulum Berbasis Cinta diimplementasikan secara utuh.
“Kurikulum Berbasis Cinta adalah pendekatan strategis untuk membangun pembelajaran yang bermakna, humanis, dan berorientasi pada nilai kebaikan. Karena itu, integrasinya harus tampak dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler,” ujarnya.
Wakil Kepala Bidang Kurikulum, Farah Fuadati, S.Pd., saat membuka kegiatan menegaskan bahwa megengan di madrasah ini dirancang sebagai pengalaman belajar kontekstual. "Tradisi tidak berhenti pada simbol, melainkan menjadi media penguatan kolaborasi, kepemimpinan, dan kecakapan abad 21," katanya.
Ciri khas Megengan 5.0 tampak dari kemasan kegiatannya yang kreatif dan adaptif dengan era digital. Prosesi ater-ater megengan dipandu Eka Wijayanti, S.S., dengan konsep spinwheel yang membuat pembagian hidangan antarkelas X berlangsung interaktif dan penuh antusiasme. Tradisi bertemu inovasi dalam suasana yang menyenangkan.
Siswa kelas X menampilkan hidangan khas Ramadan yang telah dimodifikasi secara kreatif, seperti pukis matcha, nasi biryani, puding buah, roti gulung, dan aneka olahan lainnya. Setiap sajian tidak hanya dinilai dari rasa dan tampilan, tetapi juga dari ide, konsep, serta cara penyajiannya.
Sementara itu, siswa kelas XI mengambil peran sebagai tim dokumentasi dan reviewer. Mereka merekam proses, membuat ulasan, hingga menyusun konten pembelajaran. Di sinilah tema From Culture to Contentpreneur Generation menemukan maknanya. Tradisi menjadi bahan cerita, dan siswa belajar menjadi kreator yang jujur, kritis, serta berintegritas di ruang digital.
Baca Juga : Mahasiswa Kimia UB Tembus Riset Taiwan lewat TEEP 2026
Semangat Happy Learning with Kurikulum Berbasis Cinta terasa kuat. Bagi siswa, megengan bukan sekadar agenda menjelang Ramadan, melainkan momentum mengekspresikan cinta kepada Allah melalui kesiapan spiritual dan rasa syukur. Cinta kepada sesama diwujudkan melalui berbagi, kepedulian, dan toleransi.
Lebih dari itu, implementasi KBC juga diarahkan agar berdampak bagi masyarakat sekitar. Semangat megengan membawa pesan moderasi beragama, harmoni, dan sinergi sosial. Tradisi diwariskan, kompetensi ditingkatkan, dan karakter dibentuk dalam satu rangkaian pembelajaran yang utuh.
Megengan 5.0 kini menjadi identitas MAN 1 Kota Malang. Ia bukan hanya perayaan budaya, melainkan simbol bahwa madrasah mampu menghadirkan pendidikan yang membahagiakan, kontekstual, dan relevan dengan zaman.
