Jalur Reguler Dibuka, Ratusan Calon Murid Ikuti Pemetaan di MIN 1 Kota Malang
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Nurlayla Ratri
04 - Mar - 2026, 01:46
JATIMTIMES - Antusiasme orang tua untuk menyekolahkan putra-putrinya di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 (MIN) Kota Malang kembali terlihat pada proses Penerimaan Murid Baru Madrasah (PMBM) tahun ajaran 2026. Ratusan calon siswa mengikuti tahapan pemetaan yang digelar sejak awal Maret, menandai ketatnya persaingan masuk ke madrasah negeri favorit di Kota Malang tersebut.
Kepala MIN 1 Kota Malang, Hj Siti Aisah SAg MPd, menjelaskan bahwa proses seleksi diawali melalui jalur prestasi dan afirmasi pada 2 Maret 2026, disusul pengumuman sehari setelahnya. Peserta yang belum lolos pada dua jalur awal secara otomatis dialihkan ke jalur reguler yang berlangsung mulai 4 hingga 6 Maret 2026.

“Tahun ini total pendaftar yang sudah terverifikasi sebanyak 723 anak. Dari jumlah itu, 150 mendaftar melalui jalur prestasi dan 59 dinyatakan lulus, dan lima anak di jalur afirmasi. Selebihnya reguler,” terang Aisah, sapaan akrabnya saat ditemui, Kamis, (4/3/2026).
Baca Juga : Viral Puding Berbelatung di Program MBG, Pemkot Malang Siapkan Evaluasi dan Sanksi
Ia menegaskan, kuota yang tersedia hanya 252 siswa. Artinya, tidak semua pendaftar dapat diterima. Jalur afirmasi sendiri diperuntukkan bagi calon peserta didik dengan kategori tertentu, baik dari keluarga kurang mampu maupun anak berkebutuhan khusus. Namun, pihak madrasah tetap menerapkan standar seleksi.
“Untuk afirmasi memang ada kriterianya. Bisa dari sisi ekonomi maupun kategori inklusif. Tetapi tetap ada standar yang harus dipenuhi, tidak otomatis diterima,” jelasnya.

Pada jalur reguler, pemetaan hari pertama diikuti 240 peserta. Jumlah yang sama dijadwalkan pada hari kedua, sedangkan hari ketiga diikuti 183 anak. Berbeda dengan sekolah yang menerapkan tes tulis, MIN 1 Kota Malang memilih pendekatan wawancara sebagai instrumen utama penilaian.
“Kami tidak mengadakan tes tertulis. Fokusnya wawancara kesiapan belajar. Di situ digali kebiasaan anak sehari-hari, kemandirian seperti memakai sepatu sendiri, hingga hafalan surat pendek,” ujarnya.
Menurut Aisah, pendekatan ini dimaksudkan agar seleksi tidak memberatkan anak. Penilaian lebih menitikberatkan pada kesiapan dasar mengikuti proses pembelajaran di madrasah.

Ia juga mengungkapkan, dalam tiga tahun terakhir jumlah pendaftar relatif stabil di kisaran 700 hingga 750 anak. Angka tersebut telah melalui proses verifikasi sistem daring. Beberapa calon peserta sempat tidak terdata karena belum menyelesaikan input sebelum sistem ditutup pukul 12.00 siang sesuai jadwal yang ditetapkan.
“Setelah sistem tutup, kami tidak bisa membuka kembali. Jadi yang tercatat adalah yang sudah final terverifikasi,” katanya.
Hasil seleksi jalur reguler dan afirmasi dijadwalkan diumumkan pada 9 Maret 2026. Sementara untuk pengelompokan kelas, madrasah telah menyiapkan skema khusus. Kelas tahfidz akan dibentuk tersendiri karena sebelumnya peserta sudah melalui uji kompetensi hafalan.
Baca Juga : Kabid Pendma Jatim Ingatkan Bahaya Human Error dalam Pengelolaan Data Madrasah
Pada jalur tahfidz, tercatat 47 pendaftar dan 19 anak dinyatakan memenuhi kriteria awal. Satu kelas akan diisi maksimal 28 siswa. Kekurangannya akan diambil dari jalur reguler, khususnya siswa yang memiliki kemampuan hafalan memadai meski belum memiliki sertifikat resmi.
“Untuk tahfidz minimal hafal satu juz. Tetapi jika di reguler ada anak yang kemampuannya sesuai, tetap kami beri ruang,” tambahnya.
Pelaksanaan PMBM hari pertama turut dipantau langsung oleh Kasi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang, Abdul Mughni. Ia memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai proposal yang diajukan pihak madrasah.
“Saya melihat layanan sudah sesuai dengan perencanaan. Pemetaan jalur prestasi maupun reguler berjalan baik,” ungkap Abdul Mughni.
Menariknya, sejumlah madrasah swasta yang tergabung dalam Kelompok Kerja Madrasah turut hadir menyambut orang tua peserta. Menurut Abdul Mughni, kehadiran mereka menjadi alternatif solusi apabila calon siswa belum tertampung di MIN 1 Kota Malang.
“Ini bentuk kolaborasi yang positif. Jika tidak diterima di sini, madrasah swasta yang kualitasnya juga sangat baik siap menampung,” tuturnya.
Dengan persaingan yang cukup ketat dan kuota terbatas, proses PMBM di MIN 1 Kota Malang tahun ini kembali menegaskan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan madrasah negeri.
