Kondisi Rupiah Hari Ini usai Mundurnya Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo

27 - Jul - 2026, 10:51

Potret pecahan uang rupiah. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan Senin (27/7/2026), di tengah kabar pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI). Meski demikian, pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan global, mulai dari harga minyak dunia hingga agenda rapat bank-bank sentral utama pekan ini.

Di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), rupiah tercatat berada di level Rp17.987 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pukul 07.49 WIB atau melemah sekitar 0,13%. Sebelumnya, rupiah sempat menguat 0,54% pada penutupan perdagangan Jumat lalu.

Baca Juga : Wisatawan Membludak, Okupansi Hotel di Kota Malang Masih Tertahan di Level 75 Persen

Tekanan terhadap rupiah diperkirakan belum mereda. Selain sentimen domestik, investor juga menunggu hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Amerika Serikat yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (29/7), disusul keputusan suku bunga Bank of England (BOE) pada Kamis (30/7) dan Bank of Japan (BOJ) pada Jumat (31/7).

Perry Warjiyo Mundur, Destry Damayanti Jadi Pejabat Sementara

Di tengah dinamika pasar, Bank Indonesia mengumumkan Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur BI.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan pengunduran diri tersebut disampaikan secara sukarela pada 25 Juli 2026 karena alasan pribadi.

"Pengunduran diri Saudara Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia secara sukarela karena alasan pribadi pada tanggal 25 Juli 2026," kata Destry, dikutip Antara, Senin (27/7/2026).

Melalui Rapat Dewan Gubernur pada 26 Juli 2026, BI kemudian menetapkan Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia sesuai ketentuan dalam Undang-Undang Bank Indonesia.

Meski terjadi pergantian kepemimpinan, Destry menegaskan seluruh tugas dan kewenangan BI tetap berjalan normal.

"Bank Indonesia akan selalu senantiasa memastikan keberlangsungan tugas dan wewenang untuk mencapai stabilitas nilai tukar rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran dan turut menjaga stabilitas sistem keuangan," ujarnya.

Apa yang Menekan Rupiah?

Selain faktor pergantian pimpinan BI, pelaku pasar juga mencermati sejumlah sentimen global. Harga minyak dunia mulai turun ke kisaran US$92,16 per barel setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mereda. Kondisi tersebut sedikit mengurangi kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.

Baca Juga : Kasasi Ditolak MA, PT Kasa Husada Wira Jatim Dinyatakan Wanprestasi dan DPRD Jatim Dorong Bayar Kerugian Rp 2,2 Miliar

Di sisi lain, indeks dolar AS juga melemah tipis ke level 101,29, membuka ruang penguatan bagi sejumlah mata uang Asia.

Dilansir dari data Bloomberg, yen Jepang, dolar Singapura, yuan offshore, dan won Korea Selatan sama-sama mencatat penguatan terbatas pada awal perdagangan.

Namun yang menjadi sorotan investor saat ini tetap tertuju pada keputusan suku bunga The Fed. Jika bank sentral AS kembali memberikan sinyal kebijakan yang agresif (hawkish) atau membuka peluang kenaikan suku bunga pada September, dolar AS berpotensi kembali menguat sehingga memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari sisi domestik, kebutuhan dolar AS untuk memenuhi impor energi juga masih menjadi tantangan bagi rupiah. Meski harga minyak mulai turun, rata-rata harga minyak dunia masih berada di atas asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel.