Tak Sekadar Fasih Berbahasa Inggris, Mahasiswa Humaniora UIN Malang Sabet Most Expressive Storyteller
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Yunan Helmy
05 - Aug - 2026, 06:14
JATIMTIMES - Kemampuan berbahasa Inggris di tingkat kompetisi internasional tidak lagi berhenti pada aspek tata bahasa atau kelancaran berbicara. Cara menyampaikan gagasan, membangun emosi, hingga menghadirkan cerita yang mampu menarik perhatian audiens kini menjadi indikator penting dalam menilai kualitas seorang peserta.
Dimensi tersebut berhasil ditunjukkan Muhammad Afif Alvino, mahasiswa Program Studi (Prodi) Sastra Inggris Fakultas Humaniora Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang.
Baca Juga : Mahasiswa KKN Unisba Blitar Latih Guru SDN Plosoarang 01 Ciptakan Animasi Pembelajaran Berbasis AI
Mahasiswa semester lima asal Kota Malang itu meraih penghargaan Most Expressive Storyteller pada ADIA International Student Competition 2026 kategori Storytelling yang diselenggarakan Asosiasi Dosen Ilmu-Ilmu Adab (ADIA) di Cirebon pada 16 Juli 2026. Penghargaan tersebut diberikan kepada peserta yang dinilai paling mampu menghidupkan cerita melalui ekspresi, intonasi, gestur, serta penyampaian yang mampu membangun keterlibatan audiens.

Kompetisi ADIA International Student Competition menjadi ruang bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk menguji kemampuan akademik sekaligus keterampilan komunikasi di bidang ilmu-ilmu adab dan humaniora. Pada kategori Storytelling, peserta tidak hanya dituntut menguasai bahasa Inggris, tetapi juga mampu memadukan teknik vokal, ekspresi, kreativitas, serta kemampuan menyampaikan pesan secara persuasif.
Capaian Afif memperlihatkan bahwa penguasaan bahasa asing kini semakin berkaitan dengan kemampuan komunikasi lintas budaya. Dalam konteks pendidikan humaniora, kemampuan berbicara di depan publik, mengelola emosi saat tampil, dan menyampaikan gagasan secara meyakinkan menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan di dunia akademik maupun profesional.
Prestasi tersebut juga menunjukkan bagaimana pembelajaran di Fakultas Humaniora tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori kebahasaan, tetapi juga memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan keterampilan komunikasi yang relevan dengan kebutuhan global. Pengalaman mengikuti kompetisi internasional menjadi salah satu cara menguji kemampuan tersebut dalam situasi nyata.
Bagi Afif, penghargaan itu menjadi pengakuan atas proses panjang yang telah dijalaninya selama mempersiapkan diri menghadapi kompetisi. "Saya merasa senang bisa mendapatkan sertifikat ini," ujar Afif.
Menurut dia, penghargaan itu memiliki arti lebih karena dewan juri memberikan apresiasi terhadap aspek ekspresi yang menjadi kekuatan penampilannya. "Saya juga merasa bangga bahwa juri merasa ekspresi saya yang paling bagus," katanya.
Baca Juga : Dari Shutter hingga Speed, Sekretariat DPRD Surabaya Berbagi Teknik Fotografi via Mini Workshop
Ia berharap pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk perjalanan akademik maupun karier pada masa mendatang. Pengalaman berkompetisi di tingkat internasional, menurut dia, memberikan tantangan sekaligus pelajaran yang tidak diperoleh di ruang kelas.
"Saya harap ini bisa membantu karier saya, dan ke depannya saya ingin mengikuti lomba-lomba seperti ini lagi," tambahnya.
Keberhasilan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa prestasi mahasiswa tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan menerjemahkan pengetahuan menjadi komunikasi yang efektif. Keterampilan menyampaikan ide secara menarik, membangun hubungan dengan audiens, dan beradaptasi dengan lingkungan multikultural kini menjadi bagian penting dari daya saing lulusan perguruan tinggi.
Bagi Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang, capaian ini tentunya memperkuat rekam jejak mahasiswa dalam berbagai kompetisi internasional. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembentukan lulusan yang memiliki kemampuan akademik, komunikasi, kreativitas, dan kepercayaan diri untuk berkompetisi di tingkat global.
