Meski Dikritik Negara Eropa, Gianni Infantino Masih Didukung Indonesia dan Mayoritas Negara AFC
Reporter
Mutmainah J
Editor
Yunan Helmy
05 - Aug - 2026, 06:20
JATIMTIMES - Dukungan terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino mulai terbelah menjelang pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung pada Maret 2027. Di tengah kritik yang datang dari sejumlah federasi sepak bola Eropa, Indonesia justru menegaskan tetap memberikan dukungan kepada pria asal Swiss tersebut.
Perdebatan mengenai kepemimpinan Infantino mengemuka setelah muncul usulan untuk membuka peluang penjualan sebagian saham komersial Piala Dunia kepada perusahaan yang dapat menerima investasi dari pihak luar. Wacana tersebut memicu penolakan dari berbagai asosiasi sepak bola karena dinilai berpotensi mengubah tata kelola salah satu ajang olahraga terbesar di dunia.
Baca Juga : Satu Data Surabaya Berbasis NIK Dijadikan Indikator Pembangunan Daerah
Mengutip FourFourTwo, penolakan terhadap usulan itu bahkan sempat memunculkan ancaman boikot dari sejumlah anggota UEFA dan CONCACAF. Di tengah besarnya tekanan, Gianni Infantino akhirnya membatalkan proposal tersebut.
Meski demikian, kontroversi itu disebut telah memengaruhi dinamika politik di tubuh FIFA menjelang pemilihan presiden pada 2027. Sejumlah negara Eropa seperti Wales, Denmark, Swedia, Serbia, dan Inggris telah menyatakan mencabut dukungan terhadap Infantino.
Di sisi lain, Presiden CONCACAF Victor Montagliani dan Presiden UEFA Aleksander Čeferin mulai disebut sebagai figur yang berpotensi menjadi penantang kuat dalam perebutan kursi Presiden FIFA.
Di tengah perubahan peta dukungan tersebut, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia memastikan Indonesia tetap berada di belakang Gianni Infantino.
Melalui pernyataan resmi yang diunggah di akun Instagram PSSI dilihat Rabu (5/8/2026), federasi sepak bola Indonesia itu menegaskan komitmennya untuk terus mendukung kepemimpinan Infantino sekaligus mempererat kerja sama dengan FIFA dan seluruh asosiasi anggotanya.

"PSSI menegaskan kembali dukungannya yang berkelanjutan untuk Presiden FIFA Gianni Infantino dan komitmennya untuk memperkuat kerja sama dengan FIFA dan semua Asosiasi Anggota untuk memajukan pengembangan sepak bola di Indonesia & di seluruh dunia," tulis PSSI.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih menilai kepemimpinan Infantino memberikan manfaat bagi perkembangan sepak bola nasional melalui berbagai program kerja sama dengan FIFA.
Indonesia bukan satu-satunya negara yang masih menyatakan dukungan kepada Gianni Infantino. Berdasarkan laporan FourFourTwo, sedikitnya terdapat sekitar 15 negara lain yang juga telah menyampaikan dukungan secara terbuka.
Baca Juga : Awet Dalam Pentas Sepak Bola Nasional, Nama Bung Karno Juga Dihidupkan di Pesepak Bola Muda
Sebagian besar dukungan tersebut datang dari asosiasi sepak bola anggota Asian Football Confederation, menandakan kawasan Asia masih menjadi salah satu basis dukungan terkuat bagi Infantino. Negara-negara seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Sri Lanka, Lebanon, dan Kuwait termasuk di antara pendukungnya. Sementara dari Afrika, Mesir dan Maroko juga telah menyatakan sikap serupa.
Banyak federasi menilai berbagai program yang dijalankan FIFA selama kepemimpinan Infantino telah memberikan dampak positif bagi perkembangan sepak bola di negara mereka. Program tersebut meliputi bantuan pendanaan, pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas kompetisi, hingga pembinaan pemain usia muda.
Walaupun sejumlah federasi di Eropa mulai mengambil sikap berbeda, peluang Gianni Infantino untuk kembali memimpin FIFA masih dinilai cukup besar. Pasalnya, FIFA memiliki 211 asosiasi anggota dan setiap negara memiliki hak satu suara dalam pemilihan presiden, tanpa memandang besar kecilnya negara maupun kekuatan sepak bolanya.
Dengan dukungan yang masih kuat dari banyak negara di Asia dan Afrika, termasuk Indonesia, persaingan menuju pemilihan Presiden FIFA pada 2027 diperkirakan akan berlangsung semakin ketat. Dukungan dari negara-negara berkembang diprediksi menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan arah kepemimpinan organisasi sepak bola dunia tersebut.
