Kegelisahan Sultan Demak: Antara Rindu dan Kecurigaan terhadap Ki Ageng Pengging

Reporter

Aunur Rofiq

Editor

Yunan Helmy

15 - Mar - 2025, 02:02

Situs Tri Tingal: saksi bisu sejarah peradaban Jawa yang terletak di Dusun Centong, Desa Purworejo, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar. Situs ini merupakan tempat pertemuan antara Syekh Siti Jenar, Kebo Kenanga, dan Sunan Kalijaga. (Foto: Aunur Rofiq/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Di tengah gemuruh kebangkitan Islam di Nusantara, Kesultanan Demak berdiri sebagai mercusuar yang menerangi jalan bagi kejayaan Islam di tanah Jawa. Sebuah kerajaan yang lahir dari kehancuran Majapahit dan tumbuh menjadi pusat kekuatan politik serta agama yang baru. 

Namun, di balik kejayaan itu, terselip sebuah kisah yang jarang terungkap: keresahan Sultan Demak terhadap saudara-saudaranya yang memilih jalan berbeda.

Baca Juga : Lagi, Polisi Tangkap Penjual dan Peracik Mercon di Tulungagung: Ancaman Hukuman 20 Tahun Menanti

Kisah ini berpusat pada hubungan antara sultan Demak dengan dua putra Pengging, Raden Kebo Kanigara dan Raden Kebo Kenanga -yang kemudian dikenal sebagai Ki Ageng Pengging dan Ki Ageng Tingkir. Sejarah mencatat bahwa hubungan antara Demak dan Pengging tidak selalu harmonis, terutama setelah para raja-putra Pengging menanggalkan status kesatria mereka dan memilih kehidupan sebagai santri.

Demak dan Pengging: Garis Darah yang Berseberangan

Demak berdiri sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa, dipimpin oleh seorang sultan yang dikenal sebagai Sultan Bintara. Keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari pengaruh para wali -tokoh-tokoh spiritual yang menjadi pilar utama penyebaran Islam di Nusantara. Namun, di balik kemegahan kerajaan ini, sultan Demak menyimpan kegundahan yang mendalam terhadap saudara-saudaranya di Pengging.

Pengging, sebuah wilayah di pedalaman Jawa, merupakan tanah yang kaya akan sejarah dan keturunan darah biru. Raden Kebo Kanigara dan Raden Kebo Kenanga adalah putra Sri Handayaningrat, menantu Prabu Brawijaya dari Majapahit. Keduanya memiliki hak untuk memerintah di Pengging, namun mereka memilih jalur yang berbeda: meninggalkan adat kesatria dan menjalani kehidupan sebagai santri dan petani.

Keputusan ini mengguncang hati sultan Demak. Baginya, perubahan ini bukan sekadar persoalan spiritual, tetapi juga persoalan politik. Keresahan memuncak saat terdengar kabar bahwa Pengging telah berubah menjadi pusat kegiatan keagamaan dengan surau-surau yang berdiri di seluruh wilayah. Hal ini membuat Sultan Demak bertanya-tanya: apakah kedua saudaranya sedang mempersiapkan suatu gerakan tandingan?

Sultan Trenggana dan Ki Ageng Pengging: Besan, Cucu Brawijaya V, dan Takdir yang Berseberangan

Sultan Trenggana, atau dikenal dengan nama Pate Rodim, merupakan sultan ketiga Kesultanan Demak yang memerintah dalam dua periode, yakni 1505-1513 dan 1521-1546. Di antara kedua periode tersebut, tahta Demak sempat dipegang oleh Pati Unus, adik Trenggana yang memimpin Jepara dan dikenal karena ekspedisinya ke Malaka melawan Portugis. Trenggana dikenal sebagai penguasa ekspansionis yang memperluas wilayah Demak hingga ke Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah, dengan berbagai penaklukan strategis terhadap sisa-sisa kekuatan Majapahit dan kerajaan-kerajaan kecil yang masih berpegang pada tradisi Hindu-Buddha.

Selama masa pemerintahannya, Sultan Trenggana berhasil menaklukkan berbagai wilayah penting, seperti Wirasari pada 1528, Gagelang atau Gelanggelang (Madiun) pada 1529, Medangkungan (Blora) pada 1530, serta Hujung Galuh (Surabaya) pada 1531. Ekspansinya berlanjut hingga ke Pasuruan pada 1535, Lamongan, Blitar, dan Wirasaba (Mojoagung, Jombang) pada 1541-1542. Puncaknya, pada 1543, pasukan Demak berhasil merebut Gunung Penanggungan, yang merupakan pusat sisa-sisa pelarian Majapahit, sebelum akhirnya menaklukkan Kerajaan Sengguruh di Malang pada 1545.

Sultan Trenggana memiliki hubungan erat dengan jaringan Wali Songo melalui pernikahannya dengan Retna Pembayun, putri Sunan Kalijaga dan Siti Zaenab. Siti Zaenab sendiri merupakan putri Syekh Siti Jenar.

Pernikahan antara Sultan Trenggana dan Retna Pembayun melahirkan beberapa tokoh penting dalam sejarah Mataram serta kerajaan-kerajaan Jawa setelahnya.

Salah satu putra mereka adalah Ratu Mas Cempaka, yang kemudian menjadi permaisuri Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) di Pajang dan melahirkan Pangeran Benawa. Pangeran Benawa kelak menjadi raja kedua Pajang dan menurunkan Ratu Mas Hadi, yang menikah dengan Hanyakrawati serta melahirkan Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Selain Ratu Mas Cempaka, putra lain dari Sultan Trenggana adalah Pangeran Timur, yang kemudian menjadi Panembahan Madiun dan menurunkan Retno Dumilah. Retno Dumilah kemudian menikahi Senopati, pendiri Dinasti Mataram Islam, yang melahirkan Panembahan Juminah. Dari garis keturunan ini lahir Pangeran Balitar, yang menurunkan Kanjeng Ratu Mas Balitar. Keturunan ini kemudian terhubung dengan keluarga penguasa Kerajaan Mataram, Kesultanan Yogyakarta, dan Kasunanan Surakarta, termasuk Sunan Amangkurat IV dan Pangeran Mangkubumi (Sultan Hamengkubuwono I).

Sultan Trenggana wafat pada tahun 1546 dalam ekspedisi militer ke Panarukan, sebagai bagian dari ambisinya untuk menguasai seluruh Jawa Timur. Kematian Trenggana memicu krisis suksesi di Demak, yang pada akhirnya membuka jalan bagi Pajang untuk menjadi pusat kekuasaan baru di bawah kepemimpinan Sultan Hadiwijaya.

Menariknya, Sultan Hadiwijaya, atau yang lebih dikenal sebagai Jaka Tingkir adalah putra Ki Ageng Pengging. Dengan demikian, hubungan antara Trenggana dan Ki Ageng Pengging dapat dikatakan sebagai besan, karena Jaka Tingkir menikahi putri Sultan Trenggana.

Selain itu, Trenggana dan Ki Ageng Pengging juga memiliki hubungan darah. Keduanya merupakan cucu dari Sri Prabu Kertawijaya (Brawijaya V), Raja Majapahit.

Ki Ageng Pengging, atau Raden Kebo Kenanga, merupakan putra Andayaningrat, adipati Pengging yang gugur dalam perang antara Demak dan Majapahit. Menariknya, dalam pertempuran tersebut, Andayaningrat bertarung satu lawan satu dengan Sunan Ngudung, ayah dari Sunan Kudus. Pertempuran ini menjadi simbol benturan besar antara dua kekuatan: sisa-sisa kejayaan Majapahit dan pengaruh Islam yang semakin kuat di tanah Jawa.

Sebagai bagian dari keluarga Kerajaan Majapahit, Andayaningrat menikah dengan Retna Pembayun, putri Prabu Brawijaya V dari pernikahannya dengan Dewi Dwarawati. Dari pernikahan ini, lahir tiga putra: Raden Kebo Kanigara, Raden Kebo Kenanga—yang kelak dikenal sebagai Ki Ageng Pengging—dan Raden Kebo Amiluhur, yang meninggal di usia muda.

Setelah kedua orang tuanya wafat, Raden Kebo Kenanga dan Raden Kebo Kanigara dibesarkan di istana Majapahit di bawah asuhan Dewi Dwarawati, permaisuri Dyah Kertawijaya (Brawijaya V).

Dewi Dwarawati adalah nenek dari Raden Kebo Kenanga dan Raden Kebo Kanigara, serta ibu dari Retna Pembayun. Salah satu putranya yang lain adalah Bathara Katong, yang dalam sejarah dikenal sebagai pendiri Ponorogo.

Dewi Dwarawati, yang juga dikenal sebagai Ratu Champa, merupakan seorang putri dari Champa yang menikah dengan Prabu Brawijaya V (Dyah Kertawijaya) dan menjadi permaisuri Majapahit. Ia juga merupakan bibi dari Sunan Ampel atau Raden Rahmat, yang dikenal sebagai salah satu penyebar Islam di Jawa. Hubungan ini menunjukkan bahwa Dewi Dwarawati berasal dari keluarga bangsawan Champa yang memiliki keterkaitan erat dengan jaringan ulama Islam di Jawa.

Sebagai permaisuri Prabu Brawijaya V, Dewi Dwarawati melahirkan beberapa keturunan penting, termasuk Retna Pembayun dan Bathara Katong. Retna Pembayun kemudian menikah dengan Adipati Andayaningrat, penguasa Pengging, dan melahirkan Raden Kebo Kenanga (Ki Ageng Pengging) serta Raden Kebo Kanigara. Dengan demikian, Raden Kebo Kenanga adalah cucu dari Dewi Dwarawati. Sementara itu, Sunan Ampel, yang merupakan keponakan Dewi Dwarawati, adalah sepupu dari Retna Pembayun. Hal ini berarti Sunan Ampel memiliki hubungan kekerabatan dengan Raden Kebo Kenanga dan Raden Kebo Kanigara, yang masih berada dalam lingkup keluarga besar Majapahit.

Bathara Katong, yang dikenal sebagai pendiri Ponorogo, adalah putra Dewi Dwarawati dari pernikahannya dengan Prabu Brawijaya V. Dengan demikian, ia adalah saudara dari Retna Pembayun dan paman dari Raden Kebo Kenanga serta Raden Kebo Kanigara. Hubungan ini menunjukkan bahwa Bathara Katong dan Kebo Kenanga berasal dari garis keturunan yang sama, yakni Majapahit, tetapi memiliki peran yang berbeda dalam sejarah Islamisasi Jawa. Bathara Katong dikenal sebagai sosok yang membawa Islam ke Ponorogo, sementara Kebo Kenanga berperan dalam perkembangan Islam di wilayah Pengging sebelum akhirnya dieksekusi oleh Sultan Trenggana.

Dari hubungan nasab ini, terlihat bahwa Dewi Dwarawati memainkan peran penting dalam jaringan politik dan keagamaan di Jawa. Sebagai permaisuri Majapahit dan bibi Sunan Ampel, ia menjadi penghubung antara keluarga bangsawan Hindu-Buddha Majapahit dan jaringan Walisongo yang membawa Islam ke tanah Jawa. Nasab ini menjelaskan bagaimana Kebo Kenanga, Sunan Ampel, dan Bathara Katong masih berada dalam satu lingkup keluarga besar yang memiliki pengaruh besar dalam sejarah Islamisasi dan politik di Jawa.

Surat dan Duta: Upaya Menjembatani Keresahan

Di tengah gemuruh takhta dan ambisi penaklukan, Sultan Trenggana kerap dilanda rindu yang tak terkatakan. Di balik dinding istana Demak yang megah, hatinya merindukan dua saudara sebayanya -Raden Kebo Kenanga dan Raden Kebo Kanigara. Mereka bertiga pernah berbagi tawa di masa kecil, bermain di lorong-lorong istana Majapahit, sebelum waktu dan takdir membawa mereka ke jalan yang berbeda. Trenggana menjadi raja, memanggul panji Islam dengan pedang dan strategi. Sementara Kebo Kenanga memilih jalan sunyi sebagai santri dan petani, meninggalkan segala gelimang kekuasaan. Sementara itu, Kebo Kanigara menghilang dalam kabut sejarah, namanya samar dalam riwayat para leluhur.

 Namun di lubuk hati Trenggana, kenangan itu tetap hidup -saat mereka bertiga masih bersaudara dalam canda, sebelum politik dan perang memisahkan mereka ke arah yang tak lagi sama.

Baca Juga : Pemilik Warung di Sidoarjo Jemput Keberkahan Berbagi 1000 Nasi Kotak

Untuk menghilangkan keraguannya, sultan Demak mengutus empat duta ke Pengging. Misinya jelas: mengundang kedua raja-putra ke Demak untuk berembuk. Namun, sesampainya di Pengging, duta tersebut hanya disambut oleh Ki Ageng Pengging.

Dalam pertemuan itu, Ki Ageng Pengging dengan nada lembut tetapi tegas menyampaikan pesan bahwa ia tidak dapat segera menghadap sultan Demak. Kesedihannya masih mendalam karena kakaknya, Raden Kebo Kanigara, telah pergi entah ke mana bersama istri dan anaknya tanpa meninggalkan jejak.

"Aku masih menunggu kepulangan kakakku," kata Ki Ageng Pengging kepada para duta. "Jika ia telah kembali, aku akan datang ke Demak bersama-sama dengannya."

Jawaban ini membuat hati sultan Demak semakin bergejolak. Apakah ini hanya alasan? Ataukah ada rencana lain yang disusun di Pengging?

Setelah menerima laporan dari para duta, sultan Demak semakin diliputi kegelisahan. Ia mulai mempertanyakan niat kedua saudaranya. Dalam pikirannya, mereka bukan sekadar rakyat biasa—mereka adalah keturunan raja. Darah biru yang mengalir dalam diri mereka mungkin saja membangkitkan ambisi lama untuk mendirikan kekuasaan sendiri.

"Sungguh mengherankan," pikir Sultan Demak, "mengapa sejak aku naik takhta, mereka tidak pernah sekalipun menghadap ke Demak? Jangan-jangan mereka hendak merongrong kewibawaanku!"

Kecurigaan ini semakin menguat mengingat bahwa baik Raden Kebo Kanigara maupun Raden Kebo Kenanga adalah cucu Prabu Brawijaya dari Majapahit. Jika mereka memiliki niat untuk membangun kekuatan baru, maka Demak akan berada dalam ancaman serius.

Dalam kegelisahannya, sultan Demak mengingat momen-momen penting yang mengokohkan posisinya. Salah satunya adalah tradisi peringatan Maulid Nabi di Masjid Agung Demak. Setiap tahun, para ulama, wali, dan pemimpin dari seluruh Jawa berkumpul di sana untuk membaca singir dan mengadakan rembukan dengan sultan. Bagi sultan Demak, inilah simbol persatuan Islam di bawah kekuasaannya.

Namun, dalam setiap peringatan itu, kedua saudaranya dari Pengging selalu absen.

Langkah Tegas: Surat Kedua untuk Pengging

Setahun berlalu sejak janji Ki Ageng Pengging untuk menghadap ke Demak. Namun, tidak ada tanda-tanda kepulangan Raden Kebo Kanigara dan Ki Ageng Pengging tetap diam.

Sultan Demak tidak bisa lagi menunggu. Ia memutuskan untuk mengirim surat kedua -kali ini lebih tegas dan penuh peringatan. Surat itu dikirim melalui delapan orang mantri ke Pengging, berisi permintaan agar Ki Ageng Pengging segera datang ke Demak.

Surat itu berbunyi:

"Atas nama Kangjeng Nabi Muhammad yang menjadi nayaka di dunia ini, dengan segala ikhlas dan kesucian hati, aku, Sultan Demak, menyampaikan surat ini kepada kakakku, Raden Kebokenanga, Adipati Pengging. Sudah setahun berlalu sejak kau berjanji untuk menghadap, namun tak juga kulihat kau datang. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa kepastian. Bukankah kita masih saudara? Bukankah jarak Pengging ke Demak tak seberapa jauh? Aku menunggumu."

Sesampainya di Pengging, para utusan menyerahkan surat itu kepada Ki Ageng Pengging. Ia membaca surat tersebut dengan penuh perhatian. Namun, alih-alih memberikan jawaban segera, ia tetap pada pendiriannya: menunggu kepulangan kakaknya.

"Katakan kepada sultan," ujar Ki Ageng Pengging, "Bahwa aku tidak akan mengingkari janji. Aku akan datang ke Demak, tetapi hanya setelah saudaraku kembali."

Demak dan Pengging: Titik yang Tak Bisa Ditembus

Kabar ini membuat hati sultan Demak semakin gundah. Ia tahu bahwa tidak ada banyak waktu untuk terus menunggu. Jika Pengging benar-benar berseberangan dengan Demak, maka langkah tegas harus diambil.

Dalam bayangan sultan Demak, Pengging adalah bayangan masa lalu yang terus menghantui takhtanya. Keputusan Raden Kebo Kanigara dan Raden Kebo Kenanga untuk meninggalkan kehidupan kesatria dan menjadi santri bukan sekadar persoalan pribadi. Itu adalah sebuah sikap politik, sebuah tantangan terselubung terhadap supremasi Demak sebagai kekuatan Islam di Jawa.

Maka, tanpa menunggu lebih lama, sultan Demak mulai mempertimbangkan langkah terakhir: menumpas Pengging sebelum Pengging menumbangkan Demak.

Apakah ini keputusan bijak, atau justru awal dari perang saudara yang mengguncang Demak dan seluruh tanah Jawa? Sejarah mencatat, nasib Ki Ageng Pengging berada di tangan Sunan Kudus.

Historiografi mengenai nasib Ki Ageng Pengging setelah keputusan sultan Demak mengutus Sunan Kudus untuk menindak dirinya tetap menjadi perdebatan di antara berbagai sumber. Beberapa babad menyebutkan bahwa Ki Ageng Pengging wafat setelah dieksekusi dengan cara yang khas -sayatan di siku oleh Sunan Kudus -sebuah metode yang diyakini memiliki makna spiritual tersendiri dalam tradisi Islam Jawa. Namun, ada sumber lain yang menyatakan bahwa eksekusi itu tidak berakhir dengan kematian. Sebaliknya, Ki Ageng Pengging justru memilih untuk meninggalkan Pengging dan menempuh jalan sunyi, bergabung dengan gurunya, Syekh Siti Jenar, di Cirebon. Jika demikian, maka kisahnya tidak berakhir sebagai seorang yang dihukum, melainkan sebagai sosok yang menghilang dalam lorong waktu, meninggalkan jejak samar di antara legenda dan kenyataan.