Jelajahi Kantor Microsoft, Karyawan Bebas Bermain di Jam Kerja | Bondowoso TIMES
Laporan dari Amerika Serikat

Jelajahi Kantor Microsoft, Karyawan Bebas Bermain di Jam Kerja

Sep 14, 2016 06:55
Penulis Dimas Iqbal Romadhon (kanan) bersama rekan-rekannya di depan salah satu perusahaan IT terbesar di dunia,  Microsoft
Penulis Dimas Iqbal Romadhon (kanan) bersama rekan-rekannya di depan salah satu perusahaan IT terbesar di dunia, Microsoft

Pernah mendengar idiom “elephant in the room”? Idiom elephant in the room bermakna sesuatu yang sangat terlihat jelas dan diketahui semua orang, namun tidak ada yang mau membicarakann atau membahasnya. 

Ada beberapa hal yang bisa diidentikkan dengan idiom ini, misalnya bahaya penggunaan obat tidur atau bahaya konsumsi karbohidrat berlebih seperti pada pola makan orang Indonesia.

Ternyata idiom ini di kantor pusat Microsoft  di Redmond, Washington, benar-benar dibuat nyata. Di sebuah ruangan bernama The Commons, sebuah patung gajah berukuran sama dengan aslinya diletakkan di salah satu sudutnya. 

Di ruangan yang juga menjadi kantin karyawan Microsoft tersebut, patung gajah berganding panjang itu sangat mencolok perhatian bagi para pengunjung. Tak heran, jika patung gajah ini kerap dijadikan spot untuk berselfie ria.

Kontributor JATIMTIMES berkesempatan mengelilingi perusahaan informatika dan teknologi (IT) terbesar di dunia tersebut. Penulis bisa bersafari di Microsoft Campus karena diajak Ferro, salah satu karyawan yang berasal dari Pekalongan. 

Para karyawan Microsoft lebih senang menyebut  kantornya dengan sebutan kampus. Ya, Microsoft Campus, sebenarnya adalah kantor pusat IT milik Bill Gates, orang terkaya di dunia.

Microsoft Campus ini mempunyai lahan yang cukup luas. Satu gedung di Microsoft, luasannya hampir menyamai Malang Town Square (Matos), mal terbesar di Malang. Jumlah gedung di Microsoft Campus ini ada lebih 200 bangunan. Itu masih belum ditambah dengan banyaknya ruang terbuka hijau dia area perkantoran. Bisa Anda bayangkan sendiri betapa luasnya Microsoft Campus. 

Elephant in the room ini menjadi ikon di The Commons, salah satu gedung yang ada di Microsoft Campus. Luas The Commons ini hampir sama dengan Malang Town Square. Padahal, di Microsoft Campus ini ada sekitar 200 gedung. Bisa Anda bayangkan sendiri kira-kira besarnya kantor perusahaan IT tersebut

Kembali ke pembahasan gajah di ruangan. Bagi para pengunjung Microsoft Campus yang baru pertama kali ke The Commons, pasti akan bertanya-tanya apa maksud dari patung gajah di dalam ruangan. Penulis yang merupakan dosen Universitas Islam Raden Rahmat Malang yang saat ini menempuh program doktoral International Studies di University of Washington, juga bertanya-tanya mengapa patung gajah besar diletakkan di sebuah ruangan.

Akhirnya, penulis mendapatkan jawaban. Jawabannya adalah “because no one wants to discuss it atau dalam bahasa Indonesianya adalah karena tidak ada yang mau membicarakannya”.  Jawaban itu merupakan makna dari idiom elephant in the room.

Bisa jadi, Bill Gates, pemilik Microsoft meletakkan patung gajah dalam ruangan hanya untuk bahan guyonan saja. Bisa jadi juga, sebagai monumen perjuangannya karena  Microsoft berangkat dari sebuah perusahaan pemrograman yang nyaris tidak dibicarakan orang di awalnya. Tidak ada yang benar-benar tahu kenapa, bahkan para karyawan Microsoft sekalipun.

Namun patung gajah dalam ruangan itu bukan satu-satunya  yang menarik hati. Di samping The Commons, terdapat juga sebuah lapangan rumput sintetis yang seringkali digunakan karyawan Microsoft melepas jenuh dengan bermain sepak bola atau frisbee. Bagusnya lagi, tidak ada larangan jam bermain bagi karyawan. Maksudnya, meskipun sedang di antara jam kerja dan mereka ingin bermain, maka mereka bisa segera berlari ke lapangan itu. 

Mungkin karena Microsoft adalah perusahaan yang bergerak di bidang inovasi, sehingga kejenuhan menjadi musuh utama mereka yang harus segera dihilangkan sebelum kembali menggarap proyek besar.

Microsoft Campus yang memiliki lebih dari 200 gedung ini dihubungkan oleh beberapa mobil yang berguna sebagai shuttle. Jika seorang karyawan dari gedung 32 ingin menuju ke gedung 145, maka dia hanya perlu memanggil shuttle ke jurusan tersebut. 

Suasana Microsoft Campus yang serba modern tapi dibuat sangat asri. Para karyawan Microsoft lebih senang menggunakan istilah campus untuk kantor dan pabrik perusahaan IT terbesar di dunia ini

Walaupun berjalan kaki masih menjadi pilihan bagi jarak gedung yang berdekatan, namun karena luasnya kampus ini, mobil-mobil shuttle itu seakan tidak pernah berhenti melayani mobilitas karyawan Microsoft.

Setelah menikmati santap siang unik di The Commons – penghitungan harga makanan adalah dari beratnya, bukan dari jenis menu yang kita ambil- penulis diajak berkeliling menuju ke Gedung 72 yang berfungsi sebagai Visitir Center. 

Di Gedung ini terdapat display perjalanan historis Microsoft. Salah satunya berisi  daftar foto-foto karyawan pertama yang berjumlah 12 orang. Dari belasan orang inilah, Microsoft  menjelma menjadi perusahaan multinasional dengan ribuan karyawan. 

Terdapat juga produk-produk Microsoft yang bisa kita gunakan secara gratis, mulai dari X-Box sampai MicroLens. Di depan ruang display ini, terdapat toko yang menjual ragam merchandise Microsoft.

Dengan misi empowering every person and every organization on the planet to achieve more, Microsoft memang fokus pada pengembangan produk yang membuat setiap orang bisa lebih produktif. Microsoft ingin menciptakan produk yang menjadi sahabat bagi setiap orang ketika ingin melakukan apa saja.

Sehingga semakin lama setiap orang menjadi sangat tergantung dengan Microsoft. Kita sudah bisa merasakannya pada hari ini, ketika kita sangat bergantung kepada produk-produk Microsoft seperti Windows, Office, X-box dan lainnya, namun kita memilih untuk tidak membicarakannya. Persis idiom elephant in the room tadi.

Topik
Microsoft Bill Gates

Berita Lainnya