Yayasan Unisma Akui belum Kantongi Izin Pembangunan RSI, Negosiasi tidak Berjalan Mulus | Bondowoso TIMES
Proyek RSI Unisma Nekat Tabrak Aturan  8

Yayasan Unisma Akui belum Kantongi Izin Pembangunan RSI, Negosiasi tidak Berjalan Mulus

Nov 12, 2020 13:12
Kantor Yayasan Unisma (foto Ima/MalangTIMES)
Kantor Yayasan Unisma (foto Ima/MalangTIMES)

Buntut kecelakaan kerja di proyek pembangunan gedung sembilan lantai RSI Unisma Malang hingga menyebabkan lima orang tewas dan lima lainnya luka-luka turut menguak fakta bahwa proyek pembangunan tersebut belum mengantongi Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Insiden itu juga mengungkap bahwa dokumen izin lingkungan atau AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) terkait proyek pembangunan rumah sakit dengan sembilan lantai itu juga belum dibahas dan dimohonkan.

Dikonfirmasi oleh MalangTIMES, Sekretaris Yayasan Unisma Malang Mustangin mengakui bahwa pihaknya memang belum mengantongi IMB. Namun, dirinya membantah apabila dinarasikan menghindari aturan.

Baca Juga : Kabag Humas Benarkan Pemkab Laporkan Pembuat Meme ke Polisi, Atas Kehendak Bupati Sanusi?

 

"Bahwa kami hari ini belum pegang itu IMB kami akui. Tapi kalau seolah-olah kita ingin menghindari peraturan, sama sekali tidak," tegasnya saat ditemui di kantor yayasan Unisma, Senin (2/11/2020).

Katanya, pihaknya sudah melakukan proses-proses perizinan tersebut. Hanya saja, prosesnya ternyata tidak semulus ekspektasi. Ia bercerita, pada saat awal-awal pihaknya mengurus izin untuk membangun lantai tujuh terdapat pembatas peraturan yang menyatakan bahwa bangunan semacam yang mereka inginkan maksimal hanya boleh empat lantai. Namun, pihaknya tetap melaksanakan pembangunan karena selain adanya kebutuhan juga di sekitar pun terdapat banyak gedung bertingkat. Pihaknya sendiri sudah memiliki dokumen Advice Planning (AP), satu tahap sebelum IMB keluar.

"Lalu kita mengusulkan lantai sembilan. Karena sekarang peraturannya sudah memungkinkan, kita harus reset, memberkas ulang yang lantai tujuh dan lantai sembilan sekaligus," sambungnya.

Dokumen-dokumen yang diperlukan kata dia sudah dikirimkan. Tentunya terdapat beberapa kekurangan. Namun yang jadi satu kendala besar adalah faktor yang berhubungan dengan masyarakat. Karena masyarakat adalah salah satu entitas yang sangat penting, pihaknya pun melakukan komunikasi dengan warga. "Setelah kita bercita-cita lantai sembilan ternyata kaidah peraturannya juga naik, harus ada AMDAL," ucapnya.

Nah, salah satu syarat AMDAL adalah harus memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Dalam pembangunannya ternyata juga berhadapan dengan warga yang memiliki banyak komponen, mulai dari RT, RW, warga sipil, hingga lurah. Di sinilah yayasan harus menyelesaikan kendala-kendala itu. Negosiasi tidak berjalan mulus.

"Sehingga dari proses-proses itu jadi kelihatan kita itu lama, sehingga pada saat insiden ini terjadi, memang di atas kertas kita belum pegang yang namanya Izin Mendirikan Bangunan, tetapi itu sama sekali bukan bahwa kita itu menghindari peraturan atau sengaja berbuat jahat tidak mau aturan," ucapnya.

Urusan di sinilah yang membuat yayasan merasa tidak percaya diri untuk mengajukan izin langsung lantaran masih mengurusi hal-hal tersebut. Nah pada saat itu juga lah insiden yang tidak mereka kehendaki itu terjadi. Kini, polisi sudah menetapkan dua tersangka, yakni BW selaku mandor proyek dan CA selaku operator lift proyek. Mereka dinilai lalai menjalankan tugas.

Baca Juga : Masa Pandemi Covid 19, di Kota Batu Bosda Cair dan SPP SD-SMP Tetap Gratis

 

Berkali-kali Mustangin menegaskan, pihaknya pada dasarnya sama sekali tidak berniat untuk menyelisihi aturan. "Kalau aturannya begitu ya begitu dan kita proses," timpalnya.

Ia menambahkan, dalam waktu yang tidak lama izin akan beres. Lantas mengapa pihaknya tetap melaksanakan pembangunan meski tidak mengantongi izin? "Di sisi lain, ada kebutuhan seperti yang soal penyelesaian rumah sakit karena covid segala macam itu. Kita sih inginnya segera melayani masyarakat. Segera melayani masyarakat itu artinya semakin cepat bangunan ini selesai kan semakin baik. Jadi aslinya dalam rangka memenuhi kebutuhan," jelasnya.

Beberapa waktu yang lalu setelah police line di lepas di kejadian perkara, terdapat pula media yang memberitakan pengerjaan dilanjutkan. Mustangin menjawab bahwa para pekerja mengerjakan hal-hal minor saja.

Topik
Proyek RSI Unisma Nekat Tabrak Aturan Yayasan Unisma Proyek RSI Unisma izin mendirikan bangunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan

Berita Lainnya