Jelang Lebaran, Pengusaha Rambak Sapi di Bondowoso Banjir Pesanan | Bondowoso TIMES

Jelang Lebaran, Pengusaha Rambak Sapi di Bondowoso Banjir Pesanan

Apr 30, 2021 15:44
Proses pembersihan bulu dari kulit sapi (Foto: Abror Rosi/JatimTimes)
Proses pembersihan bulu dari kulit sapi (Foto: Abror Rosi/JatimTimes)

BONDOWOSOTIMES - Kerupuk yang terbuat dari kulit sapi alias rambak sapi menjadi makanan ringan primadona di kalangan masyarakat. Di Kabupaten Bondowoso, ada sentra pembuatan rambak. Tepatnya di Dusun Krajan RT 1 Desa/Kecamatan Maesan. 

Ada dua industri rumahan yang aktif memproduksi rambak di Desa Maesan. Salah satunya UD Rambak Jaya yang sudah beroperasi selama bertahun-tahun. 

Baca Juga : Pekerja Migran dan WNA Masuk Kota Malang saat Masa Larangan Mudik Wajib Jalani Karantina 

Membuat rambak sapi hingga siap goreng membutuhkan waktu yang cukup lama, dan prosesnya pun terbilang tidak mudah. Pembuatan rambak juga bergantung cuaca, agar hasilnya gurih dan renyah.

Pemilik usaha tambak UD Rambak Jaya, Sutini (50) mengaku, bahwa dia membeli bahan baku berupa kulit sapi dari rumah jagal di Maesan, dan juga didatangkan dari Jember. "Tidak semua kulit sapi bisa dijadikan rambak. Hanya kulit sapi jantan yang bisa dijadikan kerupuk. Kalau kulit sapi betina tidak ngembang," jelasnya.

Pantauan di lokasi, tampak tiga pekerja sedang melakukan produksi. Ada yang sedang membersihkan bulu dari kulit sapi yang sudah direbus, dan ada pula yang menjaga di tempat penjemuran.

Dalam sehari kata dia, pihaknya bisa memproduksi rata-rata 0,5 kuintal kulit sapi, tergantung pengiriman kulit dari rumah jagal. Kadang kurang, kadang juga lebih.

Menurutnya, harga kulit sapi per kilogram Rp 15 ribu, sehingga dalam 0,5 kuintal dibutuhkan biaya Rp 750 ribu. "Kalau menjelang lebaran, dua hari dan sehari sebelum Idul Fitri, biasanya banyak kiriman kulit dan menumpuk. Sehingga kami biasanya menambah pekerja agar cepat selesai," paparnya.

Sebab, lanjut dia, kulit sapi tersebut tidak bisa didiamkan. Karena kalau didiamkan terlalu lama, maka bulunya sulit dipisahkan.

Adapun prosesnya, pertama-tama kulit sapi direbus dengan air mendidih selama 5 jam di malam hari dan didiamkan. Kemudian pagi harinya dicuci lagi dan dibuang bulunya hingga betul-betul bersih.

"Kemudian setelah itu kita iris tipis-tipis, dan dipotong sesuai kebutuhan. Ada yang ukurannya memanjang dan dipotong kecil-kecil berbentuk persegi," jelasnya, Kamis (29/4/2021).

Proses selanjutnya adalah penjemuran. Butuh waktu 5 hari dalam proses penjemuran agar rambak betul-betul siap goreng. Produksi rambak juga bergantung pada cuaca.

Baca Juga : Pekerja Migran dan WNA Masuk Kota Malang saat Masa Larangan Mudik Wajib Jalani Karantina 

"Dalam sehari itu harus betul-betul panas. Karena jika dalam masa dua hari selama proses jemur ada mendung atau hujan. Maka hasil rambak bisa pahit," jelasnya.

Dalam 0,5 kuintal kulit sapi, bisa menghasilkan 13 kilo rambak kering siap goreng. Kalau ada pesanan pihaknya juga menjual rambak yang sudah siap konsumsi.

Sementara harga rambak kering siap goreng dipatok Rp 120 ribu per kilogram. Sementara yang dijemur 2 hari, dipatok Rp 100 ribu per kilogramnya.

Menurutnya, penjualan rambak hasil produksinya dijual hingga ke Kabupaten Situbondo dan Jember. "Pembeli datang ke sini. Iya dijual lagi, bahkan juga dijual di expo," imbuhnya.

Menurutnya, menjelang lebaran atau Hari Raya Idul Fitri, pesanan mulai meningkat. Biasanya menjual 15-20 kilogram setiap hari, saat ini sudah ada pesanan 30 kilogram.

"Kadang kami tidak nututi pesanan, karena kekurangan bahan bakunya. Kalau kulit sapinya banyak, kami bisa memenuhi," paparnya.

Usaha rambak sapi UD Rambak Jaya, milik Sutini di Desa/Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur ini, merupakan usaha turun temurun dari orang tuanya. "Semoga usaha ini bisa terus berkembang," harapnya.

Topik
Berita Bondowoso rambak sapi rambak jaya

Berita Lainnya