Kisah Si Pemakan Hati yang Taat Beribadah  hingga Akhir Hayat setelah Masuk Islam | Bondowoso TIMES
Penentang Islam yang Akhirnya Jadi Pahlawan Islam  5

Kisah Si Pemakan Hati yang Taat Beribadah hingga Akhir Hayat setelah Masuk Islam

May 09, 2021 21:24
Kredit foto: pejuang muslimin
Kredit foto: pejuang muslimin

INDONESIATIMES - Sebelum masuk Islam, wanita Quraisy ini digelari sebagai "Akilatul Kibdah" (Pemakan Hati). Pasalnya, saat terjadi Perang Uhud, ia sempat memperlakukan jenazah Hamzah bin Abdul Muthalib di luar batas kemanusiaan.

Namun, lembaran hitam yang pernah dilakukannya itu ditebusnya dengan menjadi Muslimah teladan dan pembela agama Islam. Dia adalah Hindun binti Utbah.

Baca Juga : Benarkah Ikan yang Menelan Nabi Yunus Masih Hidup hingga Sekarang?

 

Hindun  memiliki nama lengkap Hindun binti Uthbah bin Robi’ah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf al-Umawiyah al-Qurasyiyah. Ibunya bernama Shafiyyah binti Umayyah bin Haritsah bin al-Auqashi bin Murah bin Hilal bin Falih bin Dzikwan bin Tsa’labah bin Bahtah bin Salim.

"Ibuku adalah wanita yang sangat berbahaya di masa Jahiliyah dan di dalam Islam menjadi seorang wanita yang mulia dan baik,” ujar Muawiyah, putra Hindun dan Abu Sufyan, mengungkapkan sifat sang ibu. Muawiyah kelak menjadi khalifah yang mendirikan Dinasti Umayyah yang mampu memperluas kekuasaan Islam sampai Andalusia (Spanyol dan Portugal).

Setelah memeluk Islam, Hindun dikenal sebagai sosok wanita yang memiliki sifat luhur, fasih dalam berbicara, pemberani, kuat, dan berjiwa besar. Ia juga dikenal sebagai seorang pemikir, penyair, dan seorang wanita yang bijak.

"Beliau adalah seorang wanita yang berjiwa besar dan memiliki kehormatan," tutur Imam Ibnu Abdil Barr menggambarkan sosok Hindun.

Cahaya Islam  mulai menyinari Hindun saat pasukan Islam di bawah komando Rasulullah Muhammad SAW berhasil menguasai Makkah dalam sebuah peristiwa bersejarah Futuh Makkah atau Penaklukan Makkah. Kemenangan itu berhasil diraih kaum Muslimin di bulan Ramadan.

Penduduk Makkah lantas berbondong-bondong berbaiat kepada Rasulullah SAW. Setelah membaiat kaum laki-laki, Rasulullah SAW lalu membaiat kaum perempuan.

Di antara perempuan-perempuan yang berbaiat kepadanya adalah Hindun. Dalam riwayat Imam ath-Thabari disebutkan, Hindun datang memakai cadar untuk menutupi wajahnya karena takut dikenali. Hindun masih merasa takut akibat tindakannya terhadap Hamzah di masa lalu.

Sosok Hindun binti Utbah

Namanya begitu dikenal sebagai anak salah seorang pemimpin Quraisy. Hindun juga mahir dalam menunggang kuda.

Hindun dilahirkan di Makkah sebagai anak salah seorang pemimpin Quraisy bernama Utbah ibn Rabi'ah dan Shafiyyah binti Umayyah bin Haritsah bin al-Auqashi bin Murah bin Hilal bin Falih bin Dzikwan bin Tsa’labah bin Bahtah bin Salim.

Ia merupakan istri  Abu Sufyan ibn Harb yang juga berkuasa di Makkah. Mereka dulunya sama-sama sangat menentang ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW.

Sebelum masuk Islam, pada zaman Jahiliyah, Hindun terkenal sebagai wanita yang ambisius nan sombong.

Dijuluki Akilatul Kidbah

Dia merupakan wanita yang dikenal dengan julukan Akilatul Kidbah atau si pemakan hati. Mengapa demikian? Itu lantaran Hindun yang merobek perut dan dada Hamzah bin Abdul Muthalib, sang  Singa Allah, di Perang Uhud. Hamzah juga merupakan paman Nabi Muhammad SAW.

Dikisahkan, Hindun memiliki dendam kepada Hamzah bin Abdul Muthalib karena telah membunuh ayah dan sanak saudaranya saat Perang Badar. Dendam itulah yang mengubahnya menjadi perempuan  jahat.

Tepat Perang Uhud, niatnya untuk membunuh Hamzah pun terlaksana. Ia bahkan menyuruh budak yang bernama Wahsyi untuk melancarkan aksinya membunuh Hamzah dengan dijanjikan kebebasan bila hal itu berhasil.

Didampingi suaminya, Hindun memimpin barisan kaum Musyrikin untuk menghadapi kaum Muslimim. Saat Wahsyi berhasil membunuh Hamzah dengan tombaknya, datanglah Hindun dan  dirobeknya perut Hamzah yang sudah tak bernyawa.

Hindun sampai mengeluarkan hatinya, lalu mengunyahnya. Namun dia tidak mampu menelannya sehingga memuntahkannya.

Ia bahkan hampir memakan jantung Hamzah. Selain itu, Hindun mengambil hidung dan telinga Hamzah dan dijadikan sebagai kalung.

Hindun Masuk Islam

Pada peristiwa Penaklukan Makkah dengan masuknya pasukan Muslimin secara damai di Kota Suci itu, Hindun menjadi salah seorang yang masuk Islam. Keislamannya ini dilakukan Hindun dengan baik.

Hal itu pernah dikatakannya kepada Abu Sufyan. "Aku ingin menjadi pengikut Muhammad," ucap Hindun kala itu.

"Bukankah aku lihat kau kemarin begitu membencinya?" tanya Abu Sufyan.

"Sesungguhnya aku sebelumnya tidak pernah melihat orang yang beribadah kepada Allah itu dengan benar hingga apa yang kusaksikan tadi malam. Demi Allah, mereka betah berdiri, ruku’ dan sujud," jawab Hindun.

"Jika kau tetap dengan keputusanmu, maka laksanakanlah. Pergilah membawa seorang dari kaummu untuk menemanimu," kata Abu Sufyan.

Kemudian Hindun berangkat menemui Rasulullah untuk berbaiat. Ia datang dengan menyamar dan menggunakan cadar, karena merasa takut bila kemudian Rasulullah menangkapnya setelah mengenal suaranya.

Saat itu banyak pula pria—termasuk Abu Sufyan—dan wanita yang datang berbaiat. Rasulullah didampingi  para sahabatnya.

Hindun berkata, "Wahai Rasulullah, segala puji bagi Allah yang telah menurunkan agama yang menjadi pilihan-Nya, agar dapat bermanfaat bagi diriku. Semoga Allah memberi rahmat-Nya kepadamu, wahai Muhammad. Sesungguhnya aku wanita yang telah beriman kepada Allah dan membenarkan apa yang disampaikan Rasul-Nya," ungkao Hindun.

Rasulullah berkata, "Selamat datang bagimu."

"Demi Allah," kata Hindun, "Tiada sesuatu pun di muka bumi ini penduduk yang berdiam di tenda-tenda lebih aku cintai dari mereka selalu bersama dengan tendamu. Dan sungguh aku telah menjadi bagian dari itu. Dan tidak ada di muka bumi ini penduduk yang berdiam di tenda-tenda lebih aku cintai dari mereka yang selalu ingin dekat denganmu."

"Dan sebagai tambahan, bacakanlah pada kaum wanita Al-Qur'an. Kau harus bersumpah setia bahwa selamanya kau tidak akan mempersekutukan Allah dengan sesuatu apa pun," pesan Rasulullah SAW.

Baca Juga : Marvel Studio Ungkap Jadwal Tayang Black Panther: Wakanda Forever Juli 2021

 

"Demi Allah, sesungguhnya kau berhak menyuruh apa pun kepada kami, apa yang diperintahkan kepada kaum lak-laki dan kami akan menaatinya."

"Janganlah kau mencuri!"

"Demi Allah, jika aku memakai harta kepunyaan Abu Sufyan karena suatu keperluan, aku tidak tahu, apakah itu halal atau tidak?" tanya Hindun.

Rasulullah SAW lantas bertanya, "Benarkah kau Hindun binti Utbah?"

"Benar, saya Hindun binti Utbah, maka maafkanlah apa yang telah berlalu."

Kemudian Nabi bersabda, "Janganlah kau berzina!"

"Wahai Rasulullah, apakah budak yang telah bebas dianggap berzina?"

"Janganlah kalian bunuh anak-anakmu!"

"Sungguh kami telah merawat mereka sejak kecil dan mereka terbunuh pada Perang Badar setelah dewasa. Engkau dan mereka lebih tahu itu."

Umar bin Khathab tertawa mendengar jawaban Hindun. Nabi melanjutkan, "Janganlah kalian menyebarkan fitnah dan membuat berita bohong!"

"Demi Allah, sesungguhnya memelihara fitnah itu benar-benar perbuatan yang buruk dan merupakan perbuatan yang sia-sia."

"Dan janganlah kalian berbuat maksiat padaku terhadap perbuatan yang makruf!"

Hindun berkata lagi, "Kami duduk di majelis ini bukan untuk berbuat maksiat terhadapmu dalam hal makruf."

Rasulullah SAW kemudian berkata kepada Umar bin Khathab. "Baiat mereka semua, wahai Umar. Dan mintalah ampunan Allah bagi mereka!"

Umar lalu membaiat mereka. Rasulullah SAW tidak berjabat tangan dengan para wanita itu, dan tidak menyentuhnya kecuali wanita-wanita yang benar-benar dihalalkan oleh Allah SWT bagi dirinya atau wanita yang menjadi muhrimnya.

Sosok Muslimah yang Taat

Hingga akhirnya Hindun menjadi Muslimah yang ahli ibadah. Dia rajin salat malam dan berpuasa. Ia bahkan sangat konsisten dengan status barunya tersebut sampai tiba saat yang membawa kegelapan bagi seluruh bumi ini, yaitu wafatnya Rasulullah SAW.

Hindun sangat terpukul, hatinya nyaris hancur, karena merasa terlalu lama memusuhi Rasulullah dan baru saja bisa menerima Islam. Kendati demikian, ia tetap mempertahankan keislamannya dengan baik.

Ia juga tetap menjadi seorang ahli ibadah dan menjaga janji setia yang pernah diucapkannya di hadapan Rasulullah SAW. Hingga akhirnya Hindun menjadi seorang Muslimah yang taat hingga akhir hayatnya.

Pembakar Semangat Pasukan Islam di Medan Perang

Dalam Perang Yarmuk menghadapi tentara Romawi pada zaman Khalifah Umar bin Khattab, Hindun mempunyai peran yang sangat besar. Ibnu Jarir berkata, ”Pada hari itu, kaum Muslimin bertempur habis-habisan. Mereka berhasil menewaskan pasukan Romawi dalam jumlah yang sangat besar. Sementara itu, kaum wanita menghalau setiap tentara Muslim yang terdesak dan mundur dari medan laga. Mereka berteriak, ’Kalian mau pergi ke mana? Apakah kalian akan membiarkan kami ditawan oleh pasukan Romawi?’ Siapa pun yang mendapat kecaman yang pedas seperti itu, pasti kembali menuju kancah pertempuran.”

Tentara Muslim yang sebelumnya hampir melarikan diri, kemudian bertempur kembali membangkitkan semangat pasukan yang lain. Mereka benar-benar terbakar oleh kecaman pedas yang diteriakkan oleh kaum wanita, terutama Hindun binti Utbah.

Dalam suasana itu, Hindun menuju barisan tentara sambil membawa tongkat pemukul tabuh dengan diiringi oleh wanita-wanita Muhajirin. Ia lantas terdengar membaca bait-bait syair yang pernah dibacanya dalam Perang Uhud.

Tiba-tiba pasukan berkuda yang ada di sayap kanan pasukan Muslim berbalik arah karena terdesak musuh. Melihat pemandangan itu, Hindun berteriak, ”Kalian mau lari ke mana? Kalian melarikan diri dari apa? Apakah dari Allah dan surga-Nya? Sungguh, Allah melihat yang kalian lakukan!”

Hindun juga melihat suaminya, Abu Sufyan, yang berbalik arah dan melarikan diri. Ia lalu segera mengejar dan memukul muka kudanya dengan tongkat seraya berteriak, ”Engkau mau ke mana, wahai putra Shakhr? Ayo, kembali lagi ke medan perang! Berjuanglah habis-habisan agar engkau dapat membalas kesalahan masa lalumu, saat engkau menggalang kekuatan untuk menghancurkan Rasulullah.”

Zubair bin Al-’Awwam yang melihat semua kejadian itu berkata, ”Ucapan Hindun kepada Abu Sufyan itu mengingatkanku kepada peristiwa Perang Uhud, saat kami berjuang di depan Rasulullah SAW.”

Pada masa pemerintahan Umar bin Khathab, setelah Hindun memberikan segala kemampuannya untuk membela agama yang agung ini, tibalah saat baginya untuk beristirahat. Ia meninggal di atas tempat tidurnya, pada hari di mana Abu Quhafah—ayahanda Abu Bakar Ash-Shiddiq—juga meninggal.

Hindun meriwayatkan beberapa hadis dari Rasulullah SAW. Beberapa orang meriwayatkan darinya seperti Muawiyah bin Abu Sufyan (anaknya) dan Aisyah Ummul Mukminin.

Topik
wanita Quraisy Kisah Rasulullah SAW

Berita Lainnya