Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pemerintahan

Malang Raya Didorong Keluar dari Krisis Sampah, PSEL Jadi Solusi Baru

Penulis : Riski Wijaya - Editor : Yunan Helmy

30 - Mar - 2026, 09:11

Placeholder
Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) antara Pemprov Jawa Timur dan tiga daerah di Malang Raya..(Foto: Istimewa).

JATIMTIMES - Tekanan persoalan sampah yang kian menggunung akhirnya mendorong Malang Raya mengambil langkah tak biasa. Bukan lagi sekadar memperluas TPA atau menambah armada angkut, melainkan mengubah sampah menjadi energi listrik.

Langkah itu mulai dikunci melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) antara Pemprov Jawa Timur dan tiga daerah di Malang Raya.

Baca Juga : Mahasiswa Rentan, DPRD Kota Malang Dorong Kampus Perkuat Layanan Kesehatan Mental

Kerja sama ini bukan hanya proyek infrastruktur, tapi sinyal bahwa pendekatan lama pengelolaan sampah dinilai sudah tidak cukup.

Wali Kota Malang Wahyu Hidayat menyebut skema ini akan mengubah peran sampah dari beban menjadi sumber daya. Kota Malang sendiri disiapkan menjadi salah satu penyumbang utama, dengan estimasi pasokan mencapai 500 ton sampah setiap hari.

Menariknya, fasilitas pengolahan tidak dibangun di masing-masing kota, melainkan dipusatkan di Kabupaten Malang. Skema ini menggunakan pendekatan aglomerasi, yakni menggabungkan beban beberapa daerah dalam satu sistem.

Model ini dipilih bukan tanpa alasan. Keterbatasan lahan dan tingginya biaya teknologi membuat pengelolaan mandiri di tiap daerah dinilai tidak lagi efisien.

Di sisi lain, pemerintah pusat juga mendorong percepatan proyek serupa di berbagai kota besar. Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Hanif Faisol Nurofiq menegaskan bahwa kesiapan teknis menjadi penentu utama apakah proyek ini benar-benar bisa berjalan atau tidak. Mulai dari ketersediaan lahan, akses jalan, hingga sumber air akan diperiksa langsung sebelum pembangunan dimulai.

Namun, ada satu hal yang disebut lebih krusial dari teknologi, yakni perilaku masyarakat.
Hanif menegaskan, tanpa pemilahan sampah dari rumah tangga, proses pengolahan energi tidak akan maksimal. Bahkan, bisa berujung tidak efisien. “Kalau dari hulunya tidak rapi, hasil akhirnya juga tidak optimal,” tegasnya.

Baca Juga : Gubernur Jatim Khofifah Guyur Rp 10 Miliar untuk Sirkuit Suryo Magetan, Targetkan Cetak Rider Kelas Dunia

Fakta di lapangan memang masih jauh dari ideal. Meski Jawa Timur mencatat capaian pengelolaan sampah tertinggi nasional, praktik pembuangan terbuka masih terjadi di sejumlah titik.

Karena itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menilai perubahan cara pandang menjadi kunci. Menurut dia, sampah tidak lagi bisa diposisikan sebagai residu yang harus disingkirkan, tetapi sebagai aset yang bisa diolah menjadi energi dan memiliki nilai ekonomi.

Program PSEL di Malang Raya pun menjadi semacam “ujian besar”, apakah kolaborasi antardaerah dan perubahan perilaku masyarakat bisa berjalan beriringan. Jika berhasil, bukan hanya persoalan sampah yang teratasi, tetapi juga membuka sumber energi alternatif baru.

Jika tidak, proyek ini berisiko menjadi sekadar ambisi besar yang tersendat di tengah jalan.


Topik

Pemerintahan Malang Raya listrik tenaga sampah sampah PSEL



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Bondowoso Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Riski Wijaya

Editor

Yunan Helmy

Pemerintahan

Artikel terkait di Pemerintahan