JATIMTIMES – Komitmen Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus menyejahterakan petani lokal terus dimatangkan. Saat berkunjung ke Pasar Sayur Plaosan, Kabupaten Magetan, Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang membeberkan strategi taktis penyerapan hasil panen untuk menyokong program Makan Bergizi Gratis Magetan, Senin (1/6/2026).
Kehadiran Nanik Sudaryati Deyang di Pasar Plaosan disambut hangat oleh ratusan pedagang dan pengunjung. Sembari berkeliling memborong komoditas holtikultura setempat, dia juga melakukan dialog intensif guna menangkap dinamika harga sayur Magetan di tingkat bawah yang selama ini kerap merugikan para petani akibat anjloknya nilai jual saat panen raya.
Baca Juga : Lapas Lamongan Gandeng SPPG Keduyung, Pasok Hasil Tanam Selada untuk Kebutuhan MBG
Menanggapi kekhawatiran para pelaku usaha tani terkait fluktuasi harga komoditas lokal, Nanik Deyang menegaskan bahwa ekosistem nasional dari program gizi ini akan hadir sebagai penyelamat sekaligus penyerap utama hasil bumi. Ia mencontohkan kondisi beberapa komoditas andalan lereng Lawu yang kini mulai merangkak stabil tinggi.
“Kita lihat sekarang apa yang stabil terus, wortel, buncis. Wortel itu dulu pernah jatuh harganya. Sekarang wortel paling murah di tingkat ini sudah Rp12.000, buncis Rp12.000. Jadi harga di sini, alhamdulilah petani. kan diuntungkan, tadi sudah disampaikan ke mereka,” ujar Nanik Sudaryati Deyang saat diwawancarai awak media di Pasar Sayur Plaosan.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa komoditas komersial pertanian dari Plaosan memiliki pangsa pasar yang luar biasa luas. Distribusinya tidak hanya mandek di lingkup internal Kabupaten Magetan saja, melainkan menjadi buruan utama bagi daerah sekitarnya seperti wilayah Madiun hingga Ponorogo.
Tingginya serapan pasar regional ini akan dioptimalkan dengan skema distribusi dapur umum dari BGN Makan Bergizi Gratis.
Secara tegas, ia juga menambahkan telah memberikan instruksi khusus kepada jajaran Koordinator Wilayah (Korwil) teknis BGN di lapangan untuk sigap melakukan intervensi jika mendapati ada harga komoditas pertanian sayur yang mendadak anjlok.
“Nanti kita akan lebih banyak lagi, saya sudah instruksikan pada tim Korwil, bahwa kalau ada harga yang jatuh, itu dipakai itu nanti. Kayak tadi harga pokcay yang jatuh, nanti misalnya menu mbg nanti harus pakai pokcay. Pasti harganya naik nanti,” urainya terkait strategi pengendalian harga sayur Magetan.
Saat disinggung oleh wartawan mengenai regulasi penentuan harga dasar, perwakilan Badan Gizi Nasional ini menggarisbawahi bahwa institusinya tidak akan mengintervensi dengan menetapkan patokan harga pasar secara sepihak.
Baca Juga : 97 Siswa SMAN 2 Kota Malang Lolos PTN, Satu Diterima di Monash University
Mekanisme pasar yang sehat justru akan tercipta secara organik melalui tingginya volume serapan pangan berkelanjutan dari program nasional ini.
Langkah taktis penyerapan bahan baku lokal ini dinilai menjadi solusi jangka panjang yang sangat efektif guna mengantisipasi memori kelam para petani sayur di kawasan Kecamatan Plaosan yang kerap menghadapi situasi pelik akibat harga komoditas yang merosot tajam saat pasokan melimpah.
Optimisme ini didasari atas luasnya jaringan logistik yang terintegrasi secara regional.
“Karena kan serapannya tinggi, tidak hanya di Magetan tapi diambil, Madiun juga ngambil, Ponorogo juga ngambil. Yang insya Allah akan memperbaiki bukan hanya pedagang tapi petani juga,” pungkasnya.
