JATIMTIMES - Sejumlah pemilik usaha keripik tempe di Kampung Sanan Kecamatan Blimbing Kota Malang mengeluhkan sejumlah kendala atas pengembangan usahanya. Salah satunya adalah akses pemasaran yang dinilai masih terbatas jika dilakukan secara mandiri. Kondisi itu diperparah dengan tingginya persaingan usaha serta kenaikan harga bahan baku berupa kedelai.
Hal tersebut disampaikan salah satu pemilik usaha produksi keripik tempe, Imam. Ia mengaku bahwa sedikit kerepotan untuk menjangkau akses pemasaran. Dirinya pun berharap ada skema bantuan pemasaran dari Pemerintah Kota (Pemkot) Malang. "Nomor satu ya terkait pemasarannya. Karena selama ini pemasarannya agak repot. Maunya ya dibantu memasarkan," terang Imam.
Baca Juga : Pertanian Cabai di Bumiayu Diproyeksikan Bisa Pasok Kebutuhan hingga 1 Ton Lebih
Untik pemasaran, lanjut Imam, sebenarnya sudah ada beberapa skema yang dilakukan. Salah satunya dengan memasok salah satu kios yang menjadi pusat oleh-oleh khas Kota Malang di sekitar Sanan. Namun ternyata ia menilai hal itu belum optimal.
"Kan gak semuanya diambil (toko pusat oleh-oleh). Nah kalau di Jogja, seperti produksi bakpia, itu kan semua produknya diambil. Dibantu memasarkan di pusatnya sana. Selama ini untuk pemasaran kami ada sales sendiri. Jadi untuk distribusi ke Kota Batu, ke Kalimantan, gitu aja," terang Imam.
Kendala tersebut masih harus ditambah fluktuasi harga kedelai yang menjadi bahan utama membuat tempe untuk selanjutnya diolah menjadi keripik tempe. Menurutnya, saat harga kedelai naik, dirinya tak punya pilihan selain menaikkan harga jual keripik tempenya.
"Ya, dinaikkan harganya meskipun itu ada yang mau, ada yang nggak mau. Tapi ya gimana lagi, mau gak mau harus naik. Gak balik modal kalau gak dinaikkan," jelas Imam.
Baca Juga : Pedagang Pasar Induk Among Tani Kota Batu Keluhkan Munculnya Pedagang Liar
Dari catatannya, harga kedelai paling mahal yang pernah ia dapat yakni sebesar Rp 15 ribu per kilogram (kg) nya. Sedangkan jika normal, harga kedelai nya hanya sebesar Rp 10 ribu per kilogramnya. "Kalau sekarang sudah di Rp 10.500 harga kedelainya," imbuhnya.
Dirinya pun berharap agar ada bantuan berupa akses pemasaran dari Pemkot Malang. Tujuannya tentu agar penjualan produksi dapat lebih stabil. "Per pack harganya Rp 7.500. Kalau penjualannya sekarang ini ya, alhamdulillah stabil. Di sini ramai kalau pas Hari Raya itu. Alhamdulillah sudah ada pelanggan tetap juga," pungkasnya.
