Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Lingkungan

Bediding di Jatim Lebih Terasa Dingin 2026 Ini, Berikut Alasannya

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

04 - Jun - 2026, 06:50

Placeholder
Ilustrasi embun upas yang terjadi tiap bediding. (Foto: TikTok)

JATIMTIMES - Warga di sejumlah wilayah Jawa Timur belakangan mulai merasakan udara yang jauh lebih dingin dibanding biasanya, terutama saat malam hingga menjelang pagi. Kondisi ini terasa di berbagai daerah seperti Malang Raya, Pasuruan, Probolinggo hingga Surabaya.

Meski siang hari cuaca masih terik dan kering, suhu pada malam hari justru turun cukup drastis. Fenomena ini dikenal dengan istilah bediding, yakni kondisi udara yang terasa lebih dingin saat musim kemarau berlangsung.

Baca Juga : Kronologi Kecelakaan Pendaki Ilegal di Gunung Semeru: Berangkat 3 Orang, Lewat Jalur Tak Resmi

Tahun ini, fenomena bediding diperkirakan terasa lebih kuat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang menyebut ada sejumlah faktor yang menyebabkan suhu udara di Jawa Timur menjadi lebih dingin.

Apa Itu Fenomena Bediding?

Bediding merupakan fenomena alam yang lazim terjadi ketika musim kemarau berlangsung, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan garis khatulistiwa.

Fenomena ini biasanya muncul pada periode Juli hingga September. Namun pada awal Juni 2026, sejumlah daerah di Jawa Timur sudah mulai merasakan dampaknya.

Saat bediding terjadi, perbedaan suhu antara siang dan malam menjadi sangat kontras. Siang hari terasa panas dan kering, sedangkan malam hingga pagi hari udara menjadi jauh lebih dingin.
Minim Awan Bikin Suhu Malam Turun Drastis
Kepala BPBD Kota Malang Prayitno menjelaskan salah satu penyebab utama suhu dingin yang lebih terasa tahun ini adalah berkurangnya tutupan awan saat musim kemarau.

Ketika langit cerah pada malam hari, panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari akan lebih mudah terlepas ke atmosfer sehingga suhu turun lebih cepat.

"Mengapa suhu anjlok drastis, karena minimnya tutupan awan, panas bumi siang hari terlepas bebas ke angkasa saat malam, dan suhu permukaan menjadi anjlok," ujar Prayitno, dikutip detikjatim, Kamis (4/6/2026).

Penjelasan serupa juga disampaikan Prakirawan BMKG Juanda, Restina Wardhani. "Suhu udara terasa dingin terutama di wilayah Surabaya dan sekitarnya dikarenakan telah memasuki musim kemarau. Pada malam hari tutupan awan lebih sedikit yang mengakibatkan suhu terasa dingin. Pada siang hari suhu akan terasa panas," jelas Restina. 

Selain minimnya awan, suhu dingin juga dipengaruhi oleh angin muson timur yang bertiup dari Benua Australia menuju Indonesia.
Angin ini membawa massa udara yang cenderung kering dan dingin. Saat melintasi wilayah Jawa Timur, suhu udara pada dini hari hingga pagi hari menjadi lebih rendah dibanding periode sebelumnya.

"Akibatnya, suhu udara pada dini hari hingga pagi hari menjadi lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya," jelas Prayitno.

Menurut BPBD Kota Malang, kombinasi musim kemarau dan pengaruh El Nino membuat fenomena bediding tahun ini terasa lebih kuat sehingga masyarakat merasakan udara yang lebih menusuk dibanding tahun-tahun sebelumnya.

BMKG mencatat sejumlah wilayah Jawa Timur kini telah memasuki musim kemarau.
Di Malang Raya, suhu udara dalam beberapa hari terakhir dilaporkan turun hingga sekitar 19 derajat Celsius pada malam dan dini hari. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga Agustus 2026.

Sementara itu, suhu terendah di Surabaya diprakirakan berada pada kisaran 23-26 derajat Celsius. Untuk wilayah Pasuruan, suhu malam hari berkisar 24 derajat Celsius, sedangkan kawasan pegunungan dapat mencapai sekitar 20 derajat Celsius.

Baca Juga : Pendaki Ilegal Jatuh ke Jurang di Jalur Tak Resmi Gunung Semeru

"Diprakirakan Surabaya dan sekitarnya suhu terdingin pada hari ini mencapai 23 sampai 26 derajat celcius. Dalam beberapa hari ke depan diprakirakan fenomena ini masih akan terjadi," beber Restina.

Meski merupakan fenomena alam yang rutin terjadi setiap tahun, BPBD mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan dampaknya.
Anak-anak, lansia, serta penderita penyakit pernapasan seperti asma menjadi kelompok yang paling rentan terdampak suhu dingin ekstrem.

Karena itu, masyarakat dianjurkan menggunakan pakaian hangat saat beraktivitas pada malam atau pagi hari serta menjaga kondisi tubuh agar tetap fit selama musim kemarau berlangsung.

Fenomena bediding juga membawa risiko bagi sektor pertanian dan peternakan, khususnya di kawasan dataran tinggi yang berada di sekitar pegunungan.

Saat suhu turun mendekati titik beku, dapat muncul fenomena embun es atau yang dikenal masyarakat sebagai embun upas.

"Ancaman embun upas di dataran tinggi, suhu bisa mencapai 0 derajat, yang mana bisa memicu embun es pada daun. Kondisi itu bisa mengakibatkan tanaman membusuk dan mati kering atau gagal panen," kata Prayitno.

Kondisi tersebut berpotensi merusak tanaman pertanian dan menimbulkan kerugian bagi petani jika tidak diantisipasi sejak awal.

BMKG mengimbau masyarakat tetap memperhatikan kondisi cuaca selama musim kemarau berlangsung. Selain menghadapi suhu dingin pada malam hari, cuaca panas saat siang juga berpotensi memicu gangguan kesehatan.

"Masyarakat diimbau selalu menggunakan pelindung kulit dan tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan, serta menghindari paparan matahari langsung," pungkas Restina.

Dengan masih berlangsungnya musim kemarau di Jawa Timur, fenomena bediding diperkirakan akan terus dirasakan masyarakat dalam beberapa bulan ke depan. Karena itu, warga diimbau rutin memantau informasi cuaca dan menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan kondisi lingkungan masing-masing.


Topik

Lingkungan bediding apa bediding bmkg malang raya



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Bondowoso Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya