Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Kesehatan

Viral Petani Cabai Pakai Paracetamol hingga Vitamin B Complex, Ini Bahayanya 

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

19 - Jun - 2026, 15:44

Placeholder
Kolase foto tanaman cabai yang diduga menggunakan pupuk dengan campuran paracetamol dan Vitamin B Kompleks. (Foto: Threads)

JATIMTIMES - Fenomena tak biasa muncul di media sosial terkait cara budi daya cabai. Sebuah video memperlihatkan petani yang disebut menggunakan obat manusia seperti paracetamol hingga vitamin B complex untuk merawat tanaman cabainya. Aksi itu langsung memicu perdebatan publik karena dianggap tidak lazim dalam praktik pertanian.

Video tersebut beredar melalui akun TikTok @kontentani. Dalam tayangan itu, tampak sejumlah obat, mulai dari kantong plastik bekas paracetamol, beberapa kotak vitamin B Complex, hingga satu kotak paracetamol. Sang petani mengklaim metode tersebut membuat tanaman cabainya lebih subur dan hijau.

Baca Juga : Jajuk DPRD Jatim Ingatkan Revisi Aturan Reses Jangan Lukai Sensitivitas Publik

Dalam video itu, ia juga menyinggung alasan penggunaan obat-obatan tersebut yang dikaitkan dengan kondisi ekonomi. "Tidak hanya manusia, Cabai ya di(pakai) paracetamol, ada vitamin B complex, tapi ya jadinya joss," ujarnya sembari memperlihatkan hamparan kebun cabai yang tumbuh menghijau.

Menanggapi viralnya praktik tersebut, Kementerian Pertanian Republik Indonesia menegaskan bahwa penggunaan paracetamol maupun vitamin B complex pada tanaman cabai belum memiliki dasar ilmiah maupun rekomendasi resmi dalam budidaya pertanian.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Muhammad Agung Sunusi, menyebut hingga saat ini tidak ada kajian di Indonesia yang merekomendasikan obat manusia sebagai sarana produksi pertanian. Ia menilai praktik tersebut berpotensi menimbulkan sejumlah dampak yang perlu diwaspadai.

Menurutnya, penggunaan tanpa pengawasan dapat memunculkan risiko residu senyawa farmasi yang berpotensi masuk ke rantai pangan jika dipakai berlebihan. Selain itu, keseimbangan mikroorganisme tanah juga bisa terganggu dan berdampak pada ekosistem lahan pertanian.

Agung juga menyoroti aspek ekonomi dari praktik tersebut. "(Ketiga) berpotensi menyebabkan pemborosan biaya produksi karena efektivitasnya belum terbukti," ujar Agung dikutip detikcom, Jumat (19/6/2026).

Ia menambahkan, penggunaan obat manusia di tanaman juga dapat menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat, seolah-olah produk farmasi bisa menggantikan pupuk atau pestisida yang sudah teruji dan terdaftar secara resmi.

Tak hanya itu, sejumlah studi internasional memang pernah menemukan tanaman bisa menyerap paracetamol dari media tanam dalam kondisi tertentu. Namun, temuan tersebut masih terbatas pada uji laboratorium dan belum bisa dijadikan dasar penerapan di lapangan, terutama pada tanaman pangan.

Fenomena ini disebut muncul karena sebagian petani berupaya mencari alternatif murah di tengah naiknya biaya produksi pertanian. Meski begitu, Kementan menilai pendekatan tersebut belum bisa dibenarkan secara ilmiah maupun kebijakan.

Baca Juga : Percepat Pemerataan Dokter Spesialis, RSSA Malang Resmi Selenggarakan PPDS Hospital Based

Agung menjelaskan bahwa praktik budidaya yang sesuai prinsip Good Agricultural Practices (GAP) tetap menjadi standar paling aman, baik bagi petani maupun konsumen.

"Pendekatan budidaya yang mengacu pada Good Agricultural Practices (GAP) tetap menjadi pilihan yang paling aman bagi petani maupun konsumen," jelasnya.

Hingga Juni 2026, pemerintah melalui Kementan disebut terus memperkuat edukasi dan pendampingan di lapangan untuk mencegah meluasnya praktik serupa yang viral di media sosial.

Upaya tersebut dilakukan melalui penyuluhan, monitoring budidaya, hingga koordinasi dengan dinas pertanian daerah. Tujuannya, meningkatkan literasi petani agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum teruji.

Kementan juga menekankan pentingnya penggunaan pupuk, pestisida, dan zat pengatur tumbuh yang sudah memiliki izin edar serta melalui uji keamanan.

"Berkoordinasi dengan dinas pertanian daerah untuk meningkatkan literasi petani terhadap informasi yang beredar di media sosial agar tidak mudah mengikuti praktik yang belum terbukti secara ilmiah," tambah Agung.


Topik

Kesehatan cabai muhammad agung sunusi cabai paracetamol cabai viral



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Bondowoso Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

Kesehatan

Artikel terkait di Kesehatan