JATIMTIMES - Di tengah derasnya arus modernisasi dan berbagai tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat, sebuah tradisi tua di Kelurahan Polowijen justru menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Ratusan warga memadati kawasan Situs Jolo Lolo, Minggu (21/6/2026), untuk mengikuti prosesi Memetri atau Barikan yang menjadi pembuka rangkaian Bersih Desa Polowijen 2026.
Jumlah peserta yang hadir diperkirakan mencapai sekitar 300 orang. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya. Kehadiran warga dari berbagai usia menunjukkan bahwa tradisi yang diwariskan turun-temurun itu masih memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat modern.
Baca Juga : Peringati Bulan Bung Karno, PDI Perjuangan Magetan Gelar Gerakan Merawat Pertiwi di 18 Kecamatan
Sejak pagi, masyarakat berdatangan membawa beragam hidangan tradisional sebagai simbol rasa syukur. Nasi tumpeng, sego besek, jajanan pasar, hingga aneka makanan rumahan ditata berjajar menggunakan wadah-wadah tradisional. Suasana khidmat terasa ketika doa bersama dilaksanakan di bawah pohon beringin yang menjadi bagian dari kawasan situs bersejarah tersebut.
Tokoh masyarakat Polowijen, Eddy Wijanarko, menyebut Bersih Desa bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang bagi warga untuk merawat hubungan sosial sekaligus menjaga identitas budaya yang telah diwariskan leluhur.
Menurutnya, tradisi tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah wilayah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mempertahankan nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong.
“Tradisi ini mengajarkan masyarakat untuk tetap bersyukur atas apa yang dimiliki, sekaligus memperkuat hubungan antarsesama warga,” ujarnya.
Semangat kebersamaan itu terlihat dari keterlibatan berbagai elemen masyarakat. Mulai dari perangkat kelurahan, pengurus RT dan RW, tokoh budaya, tokoh agama, hingga kalangan mahasiswa turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Di balik prosesi adat yang berlangsung, Polowijen juga menyimpan jejak sejarah panjang yang telah tercatat lebih dari seribu tahun lalu. Tokoh masyarakat Polowijen, Effendi, SH, menjelaskan bahwa wilayah yang kini dikenal sebagai Polowijen memiliki keterkaitan dengan Panawidyan, sebuah kawasan yang disebut dalam Prasasti Wurandungan Kanjuruhan B bertahun 865 Saka atau 943 Masehi.
Dalam catatan sejarah tersebut, Panawidyan ditetapkan sebagai wilayah sima atau desa perdikan yang memperoleh hak istimewa karena memiliki tanggung jawab merawat kawasan suci atau mandala. Status itu menunjukkan bahwa masyarakat setempat sejak masa lampau telah memiliki kemampuan ekonomi dan tata kelola wilayah yang cukup maju.
Baca Juga : 5 Rekomendasi Film Bioskop untuk Akhir Pekan, Ada Warkop DKI: Viralin Doooong..!! hingga The Longest Wait
“Jejak sejarah inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa tradisi-tradisi lama tetap dijaga oleh masyarakat sampai sekarang,” kata Effendi.
Prosesi Memetri tahun ini dipimpin oleh H. Fauzan melalui pembacaan tahlil dan doa bersama. Kegiatan dipandu Sugianto dan didampingi Ketua LPMK Polowijen, Andri Basuki Rahmad.
Sebelum pelaksanaan Barikan, warga Polowijen juga telah menggelar kirim doa kepada para leluhur secara serentak di mushala dan masjid pada Sabtu (20/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian awal dari rangkaian Bersih Desa yang setiap tahun digelar masyarakat.
Rangkaian acara akan berlanjut dengan Kirab Budaya dan Karnaval pada 28 Juni 2026, hiburan kesenian serta campursari bersama Cak Percil CS pada 4 Juli 2026, dan ditutup dengan pengajian umum pada 5 Juli 2026.
Bagi masyarakat Polowijen, Bersih Desa bukan hanya perayaan tradisi. Agenda tersebut menjadi momentum untuk menjaga warisan budaya, memperkuat solidaritas warga, sekaligus mengingat kembali akar sejarah panjang yang membentuk identitas kampung mereka hingga hari ini.
