Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Arti Kode Stiker di Buah: Kenali Perbedaan Buah Konvensional, Organik, dan GMO sebelum Membeli

Penulis : Irsya Richa - Editor : Yunan Helmy

03 - Jul - 2026, 18:30

Placeholder
Stiker yang tertera pada buah-buahan. (Foto: Instagram)

JATIMTIMES - Pernah memperhatikan stiker kecil berisi angka yang menempel di apel, pir, jeruk, atau buah impor lainnya? Ternyata, deretan angka tersebut bukan sekadar kode kasir, melainkan memiliki arti penting yang dapat memberikan informasi mengenai metode budidaya buah tersebut.

Stiker di buah dikenal sebagai price look-up (PLU) code, yakni kode standar internasional yang digunakan untuk memudahkan identifikasi produk segar di pasar maupun supermarket. Selain berfungsi saat proses pembayaran, kode ini juga dapat memberikan informasi mengenai cara buah tersebut ditanam.

Baca Juga : Komisi E DPRD Jatim Soroti Maraknya Remaja Bawah Umur Jadi Eksekutor Curanmor

Nutrition specialist sekaligus kreator edukasi kesehatan, Philip, menjelaskan bahwa kode PLU dapat dikenali dari jumlah digit dan angka awal yang tertera pada stiker.

“Ini namanya PLU atau price look-up code. Cara bacanya sederhana. Kalau stikernya terdiri dari empat digit yang diawali angka 3 atau 4, artinya itu buah konvensional yang ditanam menggunakan pestisida dan pupuk kimia,” jelas Philip.

Sementara itu, buah dengan kode lima digit yang diawali angka 9 menunjukkan bahwa produk tersebut berasal dari pertanian organik. “Kalau lima digit dan dimulai angka 9, itu buah organik, artinya dibudidayakan tanpa menggunakan pestisida sintetis,” imbuhnya.

Philip menambahkan bahwa terdapat kode lima digit yang diawali angka 8. Kode ini secara historis pernah digunakan untuk menandai buah hasil rekayasa genetika atau genetically modified organism (GMO).

“Kalau lima digit dimulai angka 8, itu buah hasil rekayasa genetika atau GMO,” tambah Philip.

Meski demikian, penggunaan awalan angka 8 untuk produk GMO saat ini sudah sangat jarang ditemukan dalam perdagangan karena sistem tersebut tidak lagi digunakan secara luas oleh industri.

Lalu mana yang lebih sehat? Philip mengatakan, buah konvensional, organik, maupun GMO memiliki kelebihan masing-masing. Dari sisi harga dan ketersediaan, buah konvensional masih menjadi pilihan yang paling mudah dijumpai masyarakat.

Namun, berdasarkan sejumlah penelitian, buah organik memang memiliki residu pestisida yang lebih rendah dibandingkan buah konvensional. “Buah organik memiliki residu pestisida sekitar empat sampai lima kali lebih rendah dibandingkan buah konvensional,” jelasnya.

Namun rendahnya residu pestisida bukan berarti buah konvensional otomatis berbahaya untuk dikonsumsi. Philip mengungkapkan bahwa hasil kajian terhadap berbagai penelitian ilmiah menunjukkan belum ada kesimpulan mutlak mengenai keunggulan kandungan gizi antara buah organik dan konvensional.

Baca Juga : Kyai Kikin dan Reformasi PBNU: Dari Silaturahmi Menuju Konsolidasi Nasional

“Dari analisis terhadap 12 studi ilmiah, sekitar 50 persen penelitian menyebut organik lebih baik, sementara 50 persen lainnya tidak menemukan perbedaan signifikan dari sisi nutrisi,” ucapnya.

Sementara itu, buah hasil rekayasa genetika atau GMO yang kerap menjadi perdebatan, Philip menegaskan bahwa berbagai lembaga kesehatan dunia telah menyatakan produk GMO yang telah lolos evaluasi keamanan aman untuk dikonsumsi.

“WHO, FDA, dan National Academy of Sciences sepakat bahwa GMO yang sudah disetujui memiliki tingkat keamanan yang sama dengan buah biasa. Bahkan beberapa tanaman GMO justru membutuhkan pestisida lebih sedikit,” terang Philip.

Meski demikian kunci utamanya tetap mengonsumsi buah secara rutin. Menurut Philip, dibandingkan memperdebatkan jenis buah yang paling sehat, masyarakat justru perlu memastikan kebutuhan buah harian terpenuhi.

Ia mengimbau mengonsumsi buah secara rutin dengan jenis yang beragam memberikan manfaat yang jauh lebih besar bagi kesehatan. “Buah yang paling sehat adalah buah yang tetap dan terus kamu makan setiap hari dengan variasi yang beragam,” jelasnya.

Hal ini sejalan dengan rekomendasi Kementerian Kesehatan RI, masyarakat dianjurkan mengonsumsi buah dan sayur sebanyak 400-600 gram per hari untuk membantu memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, serat, serta menjaga kesehatan tubuh secara menyeluruh.


Topik

Serba Serbi Buah kode stiker stiker di buah



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Bondowoso Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Irsya Richa

Editor

Yunan Helmy

Serba Serbi

Artikel terkait di Serba Serbi