Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

3 Kalimat yang Bisa Membentuk Mental Tangguh Anak Menurut Pakar, Orang Tua Sebaiknya Sering Mengucapkannya

Penulis : Mutmainah J - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

05 - Aug - 2026, 07:03

Placeholder
Anak dan orang tua. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Pola asuh tidak hanya ditentukan dari tindakan orang tua, tetapi juga dari kata-kata yang diucapkan setiap hari. Tanpa disadari, kalimat sederhana yang terus didengar anak dapat memengaruhi cara mereka mengenali emosi, menghadapi kegagalan, hingga membangun rasa percaya diri.

Karena itu, memilih kata yang tepat saat berkomunikasi dengan anak menjadi bagian penting dalam membentuk mental tangguh sejak usia dini. Anak yang terbiasa mendapat dukungan melalui komunikasi positif cenderung lebih mampu mengelola tekanan, bangkit setelah mengalami kegagalan, dan berani mencoba hal-hal baru.

Baca Juga : Ramalan Zodiak 5 Agustus 2026: Leo Penuh Percaya Diri, Gemini Dapat Peluang Baru

Para psikolog pun menilai bahwa membangun mental tangguh tidak harus dilakukan melalui nasihat panjang. Respons orang tua dalam situasi sehari-hari justru menjadi fondasi utama yang membentuk karakter anak hingga dewasa.

Berikut tiga kalimat yang direkomendasikan para pakar untuk membantu membangun mental tangguh pada anak.

1. "Tidak apa-apa jika itu yang kamu rasakan"

Anak perlu memahami bahwa setiap emosi yang muncul adalah hal yang wajar. Baik rasa sedih, kecewa, marah, takut, maupun cemas bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan atau dianggap sebagai kesalahan.

Psikolog sekaligus penulis buku Parents Have Feelings, Too, Dr. Juli Fraga, PsyD, menjelaskan kepada Parade bahwa penting bagi anak mengetahui tidak ada emosi yang benar maupun salah.

"Emosi bukanlah sesuatu yang baik atau buruk. Emosi hanya ada, sama seperti rasa haus atau lapar," jelasnya.

Dengan mengatakan, "Tidak apa-apa jika itu yang kamu rasakan," orang tua membantu anak menerima emosinya tanpa menghakimi diri sendiri. Anak pun akan belajar bahwa mengungkapkan perasaan bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari proses memahami diri sendiri. Kebiasaan ini menjadi bekal penting agar anak memiliki kesehatan emosional yang lebih baik ketika tumbuh dewasa.

2. "Apa yang bisa dipelajari dari ini?"

Kegagalan merupakan bagian alami dari proses belajar. Saat mencoba hal baru, anak bisa saja melakukan kesalahan atau belum memperoleh hasil yang diharapkan.

Daripada langsung menyoroti kegagalannya, orang tua dapat mengajak anak melihat pengalaman tersebut dari sudut pandang yang lebih positif dengan bertanya, "Apa yang bisa dipelajari dari ini?"

Mengutip CNBC Make It, pertanyaan sederhana tersebut membantu mengalihkan fokus anak dari rasa kecewa menuju proses belajar. Dengan begitu, anak memahami bahwa setiap kesalahan selalu menyimpan pelajaran yang dapat digunakan untuk berkembang.

Baca Juga : Kalender Jawa Weton Rabu Wage 5 Agustus 2026: Berpeluang Dapat Rezeki Besar

Pola komunikasi seperti ini juga membantu membentuk growth mindset, yakni pola pikir bahwa kemampuan seseorang dapat terus berkembang melalui usaha, latihan, dan kemauan untuk belajar. Anak pun akan lebih berani mencoba kembali meski sebelumnya pernah gagal.

3. "Sekarang kita coba bersama dulu. Berikutnya, kamu bisa coba sendiri ya."

Secara alami, anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan keinginan untuk mencoba berbagai hal. Namun, mereka tetap membutuhkan pendampingan sebelum benar-benar mampu melakukannya secara mandiri.

Kalimat seperti, "Sekarang kita coba bersama dulu. Berikutnya, kamu bisa coba sendiri ya," menunjukkan bahwa orang tua hadir sebagai pendamping, bukan mengambil alih semua tugas anak.

Dalam wawancaranya dengan Parade, Dr. Pal mengatakan bahwa pendekatan tersebut dapat membangun rasa percaya diri sekaligus mendorong anak menjadi lebih mandiri dalam menghadapi tantangan.

Melalui cara ini, anak belajar bahwa meminta bantuan adalah hal yang wajar saat sedang belajar. Setelah memiliki bekal dan pengalaman, mereka akan lebih yakin untuk menyelesaikan tantangan dengan kemampuannya sendiri.

Komunikasi Positif Jadi Kunci Pola Asuh

Membangun mental tangguh anak tidak selalu membutuhkan metode pengasuhan yang rumit. Justru, kebiasaan mengucapkan kalimat-kalimat positif dalam kehidupan sehari-hari dapat memberikan dampak besar terhadap perkembangan emosional dan karakter anak.

Saat anak merasa diterima, didukung, dan dipercaya, mereka akan lebih mudah mengelola emosi, belajar dari kegagalan, serta memiliki keberanian untuk bangkit ketika menghadapi berbagai tantangan. Inilah yang menjadi fondasi penting dalam membentuk anak yang tangguh, percaya diri, dan siap menghadapi kehidupan di masa depan.


Topik

Pendidikan Pola Asuh parenting anak-anak



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Bondowoso Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan