Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Human Skill Masih Dominan 69 Persen, Diskusi AI Menguat di UIN Maliki Malang

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Dede Nana

13 - Feb - 2026, 13:39

Placeholder
LP2M UIN Maliki Malang menyelenggarakan Bedah Buku The Future Society pada Jumat, 13 Februari 2026 (ist)

JATIMTIMES - Kecerdasan buatan sering dibicarakan dengan nada panik atau sebaliknya, terlalu euforia. Di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang, pembahasannya justru ditarik ke wilayah yang lebih konkret, yakni apa dampaknya bagi manusia, kampus, dan pasar kerja.

Jumat, 13 Februari 2026, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) menggelar bedah buku The Future Society di Aula Gedung Micro Teaching FITK. Dua penulisnya, Ahmad Zainul Hamdi dan Rumadi Ahmad, hadir memaparkan gagasan mereka tentang masyarakat masa depan yang kian terdigitalisasi. Forum itu dibuka oleh Rektor UIN Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, S.Ag., M.Si.

Baca Juga : Pj Kepala Desa Sejati Perkenalan sekaligus Gelar Musyawarah

Prof Ilfi tidak berbicara tentang ancaman robot mengambil alih dunia. Ia justru menyinggung pola perubahan sosial yang berulang dalam sejarah. “Ketika membaca judul buku ini saya teringat bahwa masyarakat kita telah bertransformasi berkali kali. Apalagi di era AI saat ini, kita membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat pada tahun 2030 dan seterusnya. Imajinasi yang ada dalam buku ini penting untuk kita simak bersama,” ujarnya.

1

Baginya, isu utama bukan sekadar teknologi, melainkan cara manusia mengelolanya. Ia menyebut era 4.0 sebagai momentum untuk menguji apakah kampus mampu melahirkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri tanpa kehilangan dimensi sosial. “Kata kuncinya adalah bagaimana era 4.0 ini menjadi era teknologi yang manusiawi,” katanya.

Pernyataan itu ia lanjutkan dengan pertanyaan yang lebih praktis. “Sudahkah kita mengajarkan anak didik kita tidak hanya ilmu pengetahuan, tetapi juga skill?” ujarnya. Ia menilai lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya menguasai teori. Keterampilan digital dan kemampuan adaptif menjadi prasyarat yang tidak bisa ditawar. “Lulusan kita harus mempunyai skill yang terhubung antara AI dengan manusia,” jelasnya.

Ilfi juga menyinggung jarak antara kampus dan industri yang kerap terasa lebar. Menurutnya, perguruan tinggi perlu mengambil posisi sebagai penghubung dua dunia itu. “Kita harus menjadi jembatan antara perguruan tinggi dengan industri. Anak didik kita harus bergerak dari fixed mindset menuju growth mindset, dan dari me paradigm menuju we paradigm sebagai kesadaran kolektif,” ungkapnya.

3

Data yang disampaikan dalam forum menunjukkan sekitar 69 persen proses perekrutan di Asia Tenggara masih berbasis human skill. Artinya, empati, komunikasi, etika, dan kreativitas tetap dicari. AI memang efisien, tetapi belum sepenuhnya menggantikan peran manusia dalam aspek relasional dan pengambilan keputusan kompleks.

Ahmad Zainul Hamdi menyebut disrupsi sebagai realitas yang sudah berlangsung. Ia membandingkannya dengan lompatan besar dalam sejarah, ketika manusia beralih dari berburu ke pertanian. “Sekarang kita mengalami hal yang sama. Bedanya hanya pada setting sosial dan perangkatnya,” katanya, merujuk pandangan Francis Fukuyama tentang perubahan peradaban.

Menurutnya, dampak digitalisasi tidak berhenti pada sektor ekonomi. Relasi sosial, otoritas pengetahuan, hingga praktik keagamaan ikut bergeser. Kehadiran sistem berbasis AI semakin lazim dalam kehidupan sehari hari. Pertanyaannya bukan lagi apakah perubahan itu akan datang, tetapi seberapa siap masyarakat menyesuaikan diri.

Baca Juga : Penonaktifan PBI dan Visum Korban Tak Ditanggung BPJS, Sosiolog Sebut Potensi Ledakan Distrust

Rumadi Ahmad melihat persoalan ini dari sisi lain. Ia menilai fondasi sosial dan budaya justru diuji di tengah percepatan teknologi. The Future Society, katanya, bukan sekadar membaca tren, tetapi mengajak publik berpikir tentang arah. “Tantangan terbesarnya bukan pada kecanggihan mesin, melainkan pada kebijaksanaan manusia dalam menggunakannya,” pungkasnya.

 


Topik

Pendidikan uin maliki malang ai bedah buku rektor uin maliki malang



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Bondowoso Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Dede Nana